IHSG ditutup menguat 0,40% atau naik 20,17 poin ke level 5.050,43 pada perdagangan Jumat (6/11/2026). Praktisi pasar modal sekaligus Founder WH-Project William Hartanto mengatakan penguatan di akhir sesi terjadi setelah saham-saham perbankan rebound. Secara teknikal, ia menyebut IHSG masih dalam tren turun, dengan support 4.974–5.106. Penguatan pada perdagangan berikutnya dinilai masih terbatas karena belum ada sentimen yang berpengaruh signifikan. William menyarankan saham BBCA dengan target harga Rp 5.325 serta BBRI dengan target Rp 2.900–2.970. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang juga mencatat IHSG bertahan di teritori positif. Pada awal perdagangan, indeks sempat melemah terimbas koreksi bursa Wall Street dan Asia, terutama tekanan pada saham teknologi, serta aksi ambil untung setelah penguatan sehari sebelumnya. Harga minyak kembali terkoreksi di bawah US$ 100 per barel. Artikel mengaitkan pergerakan itu dengan harapan penyelesaian konflik AS-Iran yang lebih cepat setelah Partai Demokrat memenangkan pemilu midterm. Iran dilaporkan sedang meninjau proposal mediator terkait program nuklir, tetapi tetap menginginkan pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhannya, pelonggaran sanksi, serta pelepasan aset yang dibekukan. Secara teknikal, Alrich melihat histogram MACD IHSG menyempit dan berpotensi membentuk golden cross, sementara Stochastic RSI membentuk reversal di area pivot. Ia memperkirakan IHSG akan menguji level 5.100–5.200 pada pekan berikutnya.