Nilai tukar rupiah mencatat penguatan terbesar di antara sejumlah mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Mengutip data Reuters pada pukul 02.05 GMT, rupiah di pasar spot menguat 0,47% ke level Rp 18.070 per dolar AS. Posisi ini lebih kuat dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 18.155 per dolar AS. Penguatan rupiah menjadi yang tertinggi di kawasan Asia, diikuti yen Jepang yang naik 0,27% dan baht Thailand yang menguat 0,36%. Peso Filipina juga mencatat penguatan sebesar 0,35%, sementara ringgit Malaysia naik 0,30%. Sejumlah mata uang Asia lainnya turut bergerak positif. Dolar Singapura menguat 0,13% dan yuan China naik 0,07%. Sementara itu, rupee India relatif stagnan di level 94,64 per dolar AS. Di sisi lain, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan kinerja terlemah pada perdagangan kali ini. Mata uang tersebut melemah 0,43% ke level 32,964 per dolar AS. Won Korea Selatan juga terkoreksi 0,13% ke posisi 1.342,7 per dolar AS. Meski mencatat penguatan harian terbesar di kawasan, rupiah masih menghadapi tekanan jika dilihat sejak awal tahun. Secara tahun berjalan hingga 5 November 2026, rupiah telah melemah 7,75% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp 16.670 per dolar AS. Pelemahan rupiah tersebut lebih dalam dibandingkan sejumlah mata uang Asia lainnya, seperti peso Filipina yang terkoreksi 6,90%, baht Thailand yang melemah 6,06%, serta rupee India yang turun 5,04%. Adapun won Korea Selatan dan yuan China justru mencatat penguatan masing-masing 7,28% dan 4,76% sejak awal tahun. Dengan demikian, penguatan rupiah pada perdagangan Kamis menjadi sinyal positif dalam pergerakan harian, meski belum menghapus tekanan yang membayangi mata uang Garuda sepanjang 2026.