Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,47 persen sepanjang kuartal III 2026 secara tahunan (year-on-year/yoy) bila dibandingkan kuartal III 2025 yang tumbuh 5,04 persen. Pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 lebih tinggi dibandingkan kuartal II 2026 yang tumbuh 5,29 persen. "Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan 3 2026 bila dibandingkan dengan triwulan 3 2025 atau secara year on year tumbuh sebesar 5,47 persen," ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edhy Mahmud dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta Pusat, Kamis (5/11). Dari sisi lapangan usaha, industri penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi adalah pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Kelima industri ini menyumbang sekitar 65,31 persen dari produk domestik bruto (PDB) nasional. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi mitra dagang Indonesia pada kuartal III 2026 tercatat beragam. Ada China yang tumbuh 4,5 persen, Singapura 5,4 persen, Malaysia 5,3 persen, Vietnam 10 persen, Korea Selatan 3,4 persen, dan Amerika Serikat 2,1 persen.
Ekonomi RI Tumbuh 5,47 Persen Pada Kuartal III 2026
Diperbarui:

Analisis Dampak Berita
Masuk untuk meminta analisis dampak berita ini.
MasukKomentar (0)
Masuk untuk memberikan komentar.
Baca juga

BPS Catat Warga RI Makin Banyak yang Kerja
CNN
schedule1 jam yang lalu · 14.27 WIBvisibility3menu_book1 mnt
BPS mencatat jumlah pekerja RI meningkat per Agustus 2026. Namun, mayoritas terserap sebagai pekerja informal.
Sumber Berita: CNN
Newsroom · 5 Nov 2026, 14.27 WIB

DJP Ungkap Alasan Pembalut Kena Pajak 11 Persen
CNN
schedule1 jam yang lalu · 14.27 WIBvisibility2menu_book1 mnt
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kemenkeu menjelaskan alasan pembalut wanita masih dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN) efektif sebesar 11 persen.
Sumber Berita: CNN
Newsroom · 5 Nov 2026, 14.27 WIB
Harga Minyak Dunia Turun 4 Hari Beruntun Kamis (5/11), Brent di US$ 93,65 per Barel
Kontan Epaper
schedule5 jam yang lalu · 10.49 WIBvisibility7menu_book1 mnt
Harga minyak melanjutkan penurunan selama empat hari beruntun pada Kamis (5/11/2026). Reuters mengaitkan pelemahan dengan ekspektasi risiko konflik AS-Israel dan Iran berkurang, sementara pasokan minyak dari Teluk mulai pulih dan persediaan di AS turun.
Sumber Berita: Kontan Epaper
Newsroom · 5 Nov 2026, 10.49 WIB
