Yield SBN tenor 10 tahun naik ke 7,70% pada Rabu, tertinggi sejak 19 Mei 2020, lalu sedikit turun ke 7,64% pada Kamis (29/10). Pefindo mencatat yield obligasi korporasi tenor 10 tahun berkisar 8,16% untuk peringkat AAA hingga 12,26% untuk BBB. Pada tenor tiga tahun, yield berkisar 7,64% untuk AAA, 7,88% untuk AA, 8,63% untuk A, dan 10,75% untuk BBB; yield SBN tenor tersebut 7,32%. Analis Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan investor meminta kompensasi risiko kredit, khususnya pada obligasi berperingkat lebih rendah. Permintaan institusi, dominasi penerbit berperingkat tinggi, dan kebutuhan refinancing menopang pasar, tetapi likuiditas perdagangan yang lebih rendah perlu diperhatikan. Penerbitan obligasi korporasi hingga September 2026 mencapai Rp139,65 triliun, turun 12,75% tahunan. Yield SBN yang meningkat dapat membuatnya lebih kompetitif dibanding obligasi korporasi dan mendorong penyesuaian harga, terutama untuk surat utang berlikuiditas rendah. Obligasi BBB dan di bawahnya serta emiten konstruksi, properti, dan perusahaan yang sensitif terhadap daya beli atau biaya dana dinilai lebih rentan. Pefindo mencatat 11 penurunan peringkat dan tiga kenaikan peringkat pada kuartal III; delapan penurunan berasal dari sektor konstruksi dan rekayasa. Ahmad memperkirakan yield tetap relatif tinggi hingga akhir 2026. Besarnya perubahan akan bergantung pada peringkat, tenor, dan permintaan penerbit. Untuk akhir tahun, estimasi yield tenor tiga tahun mencapai sekitar 8% untuk AAA dan 9,1% untuk A, dengan asumsi yield SBN 10 tahun sekitar 7,75%.