Pada akhir perdagangan Rabu (28/10/2026), rupiah spot melemah 0,15% ke Rp18.184 per dolar AS. IHSG merosot 1,65% ke 5.179,06 pada sesi I. Financial Educator Manager Sucor Sekuritas Hendry Wijaya menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dapat mengurangi imbal hasil investor asing saat dikonversi ke dolar, menaikkan biaya impor serta beban utang dolar emiten, dan membatasi ruang pemangkasan suku bunga Bank Indonesia. Tekanan indeks juga terkait yield SBN tenor 10 tahun sekitar 7,5%, arus keluar asing, dan keputusan suku bunga The Fed. Net sell asing di pasar reguler sepanjang tahun disebut mencapai sekitar Rp124,9 triliun. Usulan MSCI untuk menurunkan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market berpotensi memicu arus keluar dana pasif US$3–6 miliar, bahkan sampai US$19 miliar jika investor aktif ikut menjual. Kelompok saham yang rentan ialah perusahaan dengan bahan baku impor, emiten berutang dolar tanpa hedging, dan saham besar yang berpotensi dijual investor asing. Sebaliknya, eksportir batu bara, sawit, dan logam dasar relatif terlindungi karena pendapatan dolar dan biaya yang banyak dibayar dalam rupiah. Hendry menyarankan investor menilai utang, lindung nilai, arus kas, dan fundamental perusahaan; melakukan pembelian bertahap; serta memantau rupiah, arus asing, yield SBN, keputusan FOMC, dan perkembangan reformasi pasar modal.