JAKARTA, investor.id – Harga emas dunia terperosok di bawah US$ 4.000 per ons troi pada akhir pekan, tertekan kenaikan harga minyak, kekhawatiran inflasi, dan prospek suku bunga tinggi. Meski demikian, sejumlah investor masih melihat peluang pemulihan harga logam mulia tersebut. Mengutip Kitco News, harga emas spot sempat menyentuh US$ 4.190,17 per ons troi pada Senin (19/10/2026), sebelum merosot hingga US$ 3.975,10 per ons troi pada Jumat (23/10/2026). Level tersebut menjadi yang terendah sejak awal Juni 2026. Tekanan meningkat pada Kamis seiring aksi jual saham teknologi dan likuidasi di berbagai pasar. Sebagian investor terpaksa menjual emas untuk memenuhi kebutuhan margin, sehingga memperbesar tekanan terhadap harga. Survei Kitco News terhadap 17 analis Wall Street menunjukkan mayoritas memperkirakan harga emas masih tertekan. Sebanyak tujuh analis atau 41% memprediksi harga turun, empat analis (24%) memperkirakan kenaikan, sedangkan enam analis (35%) melihat harga bergerak mendatar atau belum menentukan arah. Analis Marc Chandler menilai, kondisi teknikal emas masih lemah. Harga perlu menembus area US$ 4.065–4.075 per ons troi untuk membuka peluang pemulihan lebih lanjut. Sementara itu, president of Phoenix Futures and Options Kevin Grady menyoroti tipisnya likuiditas pasar dan ketidakpastian terkait kebijakan bank sentral serta konflik geopolitik yang membuat pelaku pasar lebih berhati-hati.