Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang mengalami penguatan teknikal atau technical rebound pada perdagangan Rabu (14/10/2026). Namun, tren pelemahan indeks masih perlu diwaspadai di tengah tekanan jual dan ketidakpastian pasar global. Mengutip data perdagangan, IHSG ditutup melemah 10,17 poin atau 0,17% ke level 5.925,98 pada Selasa (13/10/2026). Sepanjang perdagangan, indeks sempat menyentuh level terendah 5.828,68. Bumiputera Sekuritas menilai, peluang pemulihan IHSG mulai terbuka setelah indeks membentuk pola candlestick dengan ekor bawah yang panjang atau long lower shadow. Pola tersebut mengindikasikan adanya respons beli ketika indeks bergerak di area bawah. Meski demikian, tekanan jual masih membayangi pergerakan indeks. Secara teknikal, IHSG berada di bawah exponential moving average (EMA) 5 di level 6.004,91, EMA 10 di 6.067,06, dan EMA 50 di 6.278,20. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tren pelemahan masih dominan, meskipun sejumlah indikator mulai memberikan sinyal peluang pemulihan. “Meski demikian, terbentuknya long lower shadow setelah indeks sempat menyentuh 5.828,68 menunjukkan adanya respons beli di area bawah. Pola candlestick yang menyerupai hammer, didukung Stochastic yang berada di area oversold, mulai membuka peluang technical rebound, meskipun MACD masih menunjukkan momentum negatif,” tulis Bumiputera Sekuritas dalam risetnya, Selasa (13/10/2026). Bumiputera Sekuritas memproyeksikan IHSG berpeluang menguat menuju rentang 6.007–6.067 apabila mampu menembus level 5.930 dan kembali bergerak di atas EMA 5. Sebaliknya, investor perlu mencermati area support di kisaran 5.828–5.798. Kemampuan IHSG mempertahankan area tersebut menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga peluang terjadinya technical rebound. Indikator Stochastic yang berada di area jenuh jual atau oversold turut membuka peluang pemulihan. Namun, indikator MACD yang masih menunjukkan momentum negatif mengisyaratkan bahwa tekanan pelemahan belum sepenuhnya mereda. Dengan demikian, penguatan IHSG pada perdagangan hari ini masih berpotensi bersifat teknikal dan belum mengonfirmasi pembalikan tren secara menyeluruh. Dari eksternal, pelaku pasar akan mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat (AS), termasuk Consumer Price Index (CPI) dan Core CPI, pada Rabu (14/10/2026). Data tersebut menjadi salah satu acuan investor dalam menilai perkembangan tekanan inflasi dan prospek kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve. Selanjutnya, data Producer Price Index (PPI) dan penjualan ritel AS yang dijadwalkan rilis pada Kamis (15/10/2026) juga berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter. Selain data ekonomi, pergerakan harga minyak mentah Brent yang berada di sekitar US$ 105 per barel serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menjadi perhatian. Harga energi yang tinggi berpotensi menambah tekanan inflasi dan memengaruhi sentimen investor terhadap aset berisiko. Dari kawasan Asia, investor menanti data inflasi dan perdagangan China yang dijadwalkan rilis pada Rabu (14/10/2026). Data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan permintaan domestik dan aktivitas ekspor Negeri Tirai Bambu.