JAKARTA, KOMPAS.com - PT Mahkota Group Tbk (MGRO) dan PT RMK Energy Tbk (RMKE) memastikan tidak menghadapi sanksi administratif maupun proses hukum terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Termasuk tidak ada penyegelan lahan hingga pencabutan izin usaha. Bahkan, kedua perusahaan memastikan kegiatan operasional tetap berjalan normal dan tidak terdampak karhutla. Hal tersebut disampaikan manajemen MGRO dan RMKE kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (15/10/2926), sebagai tanggapan atas permintaan penjelasan mengenai dampak karhutla terhadap kegiatan usaha perseroan. Direktur Utama Mahkota Group, Usli mengatakan kegiatan operasional perseroan dan anak usahanya tetap berjalan normal, meski terjadi karhutla. Perseroan menegaskan tidak ada dampak terhadap pendapatan, laba, maupun nilai aset akibat kejadian tersebut. Kegiatan operasional saat ini berjalan, namun tetap memperhatikan kondisi di masing-masing wilayah operasional. Bahkan, perseroan tetap berpedoman pada target produksi 2026 dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan usaha. Ia memastikan tidak ada penghentian operasional yang tidak direncanakan atau unplanned shutdown di lokasi operasional. Kegiatan usaha MGRO didukung tujuh anak perusahaan yang tersebar di tiga provinsi di Pulau Sumatera. Ketujuh anak usaha berkontribusi 90 persen terhadap total pendapatan perseroan melalui kegiatan usaha dan penjualan hasil produksi. Adapun, anak usaha yang beroperasi di Sumatera Utara adalah PT Karya Pratama Niagajaya di Kabupaten Batu Bara dan PT Karya Mitra Andalan di Kabupaten Asahan. Di Provinsi Riau, kegiatan operasional dijalankan PT Berlian Inti Mekar di Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Siak, PT Dumai Paricipta Abadi di Kota Dumai, PT Mutiara Unggul Lestari di Kabupaten Siak, serta PT Intan Sejati Andalan di Kabupaten Bengkalis. Sementara, PT Mega Sawit Sriwijaya beroperasi di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Untuk mengantisipasi risiko karhutla, MGRO menerapkan langkah mitigasi jangka pendek melalui pemantauan wilayah operasional, kesiapsiagaan personel, penyiagaan peralatan pemadam kebakaran, serta koordinasi dengan pihak terkait. Dalam jangka panjang, perseroan memperkuat upaya pencegahan melalui sosialisasi, pemeliharaan sarana pemadam kebakaran, dan evaluasi berkala. Langkah ini untuk meminimalkan risiko karhutla sekaligus mengurangi potensi dampaknya terhadap kegiatan operasional. Ia menyatakan tidak terdapat informasi atau fakta material lain terkait karhutla yang belum diungkapkan kepada publik dan perlu diketahui investor. Senada, RMKE memastikan kegiatan operasional perseroan dan entitas anak tetap berjalan normal di tengah karhutla.
Terseret Isu Karhutla, MGRO dan RMKE Buka Suara
Mahkota Group dan RMK Energy menyatakan operasional mereka tetap berjalan normal dan tidak terdampak kebakaran hutan dan lahan. MGRO juga menyebut tidak ada dampak terhadap pendapatan, laba, maupun asetnya.
Diperbarui:
/data/photo/2026/10/15/6ad034aeabac8.jpg)
Analisis Dampak Berita
Masuk untuk meminta analisis dampak berita ini.
MasukKomentar (0)
Masuk untuk memberikan komentar.
Baca juga
0Danantara Indonesia Trust Siapkan Dana Filantropi Rp1,79 Triliun per Tahun
Danantara Indonesia Trust berkomitmen mengalokasikan dana filantropi minimal US$100 juta atau setara Rp1,79 triliun per tahun untuk program sosial dan kesehatan.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 15 Okt 2026, 21.21 WIB
0Prodia (PRDA) Bakal Gelar Stock Split Saham Rasio 1:5
PT Prodia Widyahusada berencana melakukan stock split dengan rasio 1:5. Perseroan menyebut langkah ini bertujuan memperluas basis investor dan membuat harga saham lebih terjangkau.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 15 Okt 2026, 21.21 WIB
0Low Tuck Kwong Borong 100 Juta Saham BYAN Senilai Rp1,12 Triliun
Direktur Utama Bayan Resources Low Tuck Kwong membeli sekitar 100 juta saham BYAN senilai Rp1,12 triliun untuk tujuan investasi. Setelah transaksi, kepemilikan sahamnya meningkat menjadi 10,25% dari hak suara.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 15 Okt 2026, 21.21 WIB
