Setiap pagi, orang membutuhkan cara untuk sampai ke tempat kerja. Sebagian mengendarai sepeda motor, sebagian menggunakan mobil, dan sebagian naik angkutan umum. Tujuannya sama: tiba tepat waktu dengan biaya yang terjangkau. Namun, jumlah energi yang digunakan untuk perjalanan itu dapat berbeda. Di SPBU, kebutuhan perjalanan terlihat pada pembelian bensin atau solar. Dalam perencanaan pemerintah, pembelian tersebut menjadi angka konsumsi, kebutuhan impor, dan kapasitas kilang. Padahal, yang dibutuhkan masyarakat adalah perjalanan. Bahan bakar merupakan salah satu cara untuk memenuhinya. Perbedaan ini penting dalam membicarakan ketahanan energi. Kita perlu memastikan energi tersedia. Kita juga perlu memeriksa apakah kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dengan penggunaan energi yang lebih sedikit. Dalam laporan yang diperbarui pada 25 Agustus 2025, Badan Informasi Energi Amerika Serikat mencatat impor minyak mentah dan kondensat Indonesia pada 2024 sekitar 354.000 barel per hari. Pada tahun yang sama, impor produk minyak mencapai 791.000 barel per hari. Minyak mentah menjadi bahan baku kilang, sedangkan produk minyak merupakan hasil yang telah diolah, termasuk bensin, solar, LPG, dan produk lainnya. Karena itu, impor produk minyak tidak boleh seluruhnya dibaca sebagai impor BBM kendaraan. EIA mencatat bensin dan komponen pencampurnya menyumbang sekitar 45 persen dari impor produk minyak Indonesia pada 2024. Tambahan produksi, kapasitas kilang, cadangan, dan fasilitas distribusi tetap diperlukan. Namun, pemerintah juga perlu melihat penyebab kenaikan kebutuhan energi: apakah masyarakat lebih sering bepergian dan kegiatan usaha bertambah, atau kendaraan dan peralatan yang digunakan masih boros energi? Ekonom ekologis Herman Daly mengembangkan konsep steady-state economy untuk menjelaskan ekonomi yang menjaga penggunaan sumber daya dalam batas kemampuan lingkungan. Kualitas kehidupan dapat terus membaik, sementara penggunaan material dan energi tidak terus membesar. Lingkungan juga harus mampu memulihkan sumber daya terbarukan dan menyerap limbah yang dihasilkan. Konsep tersebut berbeda dari pasokan energi yang stabil. Kilang yang terus beroperasi atau harga bensin yang tidak berubah belum menunjukkan steady-state. Gagasan Daly membahas jumlah sumber daya yang digunakan oleh seluruh kegiatan ekonomi dan kemampuan lingkungan menanggung dampaknya. Perbedaannya dapat dilihat dari kebutuhan perjalanan: layanan transportasi membaik ketika masyarakat lebih mudah mencapai tempat kerja, waktu tempuh lebih pasti, dan ongkos lebih terjangkau.
Steady State dan Ketahanan Energi Indonesia
Kolom ini membahas ketahanan energi Indonesia dengan membedakan kebutuhan energi dari layanan yang dibutuhkan masyarakat, seperti perjalanan. Penulis menyoroti angka impor minyak Indonesia dan menggunakan konsep steady-state untuk membahas pemenuhan kebutuhan tanpa terus meningkatkan penggunaan sumber daya.

Analisis Dampak Berita
Masuk untuk meminta analisis dampak berita ini.
MasukKomentar (0)
Masuk untuk memberikan komentar.
Baca juga
0Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.938 per Dolar AS, Pasar Cermati Arah The Fed
Rupiah melemah 0,20% ke Rp17.938 per dolar AS pada Kamis (15/10/2026), sementara pelaku pasar mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed di tengah inflasi dan risiko geopolitik.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 15 Okt 2026, 23.06 WIB
0Danantara Indonesia Trust Siapkan Dana Filantropi Rp1,79 Triliun per Tahun
Danantara Indonesia Trust berkomitmen mengalokasikan dana filantropi minimal US$100 juta atau setara Rp1,79 triliun per tahun untuk program sosial dan kesehatan.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 15 Okt 2026, 21.21 WIB
0Prodia (PRDA) Bakal Gelar Stock Split Saham Rasio 1:5
PT Prodia Widyahusada berencana melakukan stock split dengan rasio 1:5. Perseroan menyebut langkah ini bertujuan memperluas basis investor dan membuat harga saham lebih terjangkau.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 15 Okt 2026, 21.21 WIB
