JAKARTA, investor.id - Nilai tukar rupiah (IDR) kembali tergelincir dalam penutupan perdagangan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada Rabu, 14 Oktober 2026. Pada perdagangan sore ini, nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis 3 poin (0,02%) ke level Rp17.903 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.900 per dolar AS. Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah terjadi menyusul ketegangan konflik di Timur Tengah yang kembali bergejolak. Dilaporkan, Houthi menyerang sebuah gedung administrasi milik perusahaan minyak negara Saudi Aramco di kota Dhahran, yang menyebabkan kebakaran berskala kecil. Kelompok militan tersebut telah meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke arah Arab Saudi selama sepekan terakhir sebagai balasan atas dukungan kerajaan tersebut terhadap pasukan pemerintah Yaman. Sementara itu, di Eropa Timur, Rusia mengatakan bahwa pihaknya tidak melihat adanya kaitan langsung antara perundingan damai dengan Ukraina dan kesepakatan ekspor solar ke AS. Pernyataan tersebut muncul setelah laporan outlet media Reuters menyebutkan bahwa para utusan AS telah menyampaikan kepada pejabat Ukraina pada hari Jumat bahwa kesepakatan itu merupakan bagian dari upaya untuk menarik kembali Rusia ke meja perundingan demi mencapai kesepakatan damai. Dari sisi dinamika pasar, rupiah melemah saat para pelaku pasar menantikan laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang akan dirilis pada hari Rabu (14/10) untuk menjadi petunjuk terbaru mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Kemudian dari sisi internal, rupiah melemah meski Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,0% ke 5,1% pada 2026. Namun, tingkat inflasi diproyeksikan naik hingga ke 3,3% (YoY). Lembaga tersebut menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari laporan sebelumnya pada Juli 2026 yakni 5,0%.