Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dibuka melemah pada perdagangan Rabu (14/10/2026). Berdasarkan data pasar spot, rupiah berada di Rp 17.918 per dollar AS, melemah 18 poin atau 0,10 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.900. Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pergerakan rupiah dipengaruhi faktor eksternal, terutama dollar AS dan harga minyak dunia. Kebutuhan impor minyak Indonesia yang besar dapat meningkatkan permintaan dollar. Pelemahan rupiah tertahan oleh koreksi indeks dollar AS; DXY pada pukul 09.00 WIB turun 0,07 persen ke sekitar 102,130. Penurunan yield obligasi pemerintah AS setelah pernyataan dovish pejabat The Fed juga menjadi faktor penahan. Investor menunggu data inflasi AS yang akan dirilis malam itu. Lukman memperkirakan rupiah fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas; arus keluar di pasar ekuitas turut membebani. Rupiah yang melemah dapat meningkatkan biaya impor minyak, bahan baku, barang modal, serta komponen produksi dari luar negeri. Jika berlanjut, biaya tersebut berpotensi diteruskan ke harga barang dan jasa sehingga meningkatkan risiko inflasi. Perusahaan tanpa pendapatan dollar atau lindung nilai juga menghadapi biaya produksi dan pembayaran utang dollar yang lebih tinggi. Sebaliknya, eksportir berpendapatan dollar dapat memperoleh nilai konversi rupiah lebih besar, bergantung pada porsi bahan impor dan struktur biaya.