Bisnis.com, JAKARTA — Investasi perak memiliki risiko fluktuasi harga yang lebih tinggi dibandingkan emas hingga akhir 2026. Sejak mencapai rekor pada Januari 2026, harga emas turun sampai 27% hingga akhir Juni, sedangkan perak anjlok lebih dari 50%. Penurunan ini membuat investor yang membeli perak di harga puncak menghadapi potensi kerugian lebih besar. Tekanan harga masih berlanjut hingga Oktober 2026. Pada Rabu (14/10/2026), harga emas dunia turun 1,2% menjadi US$4.111,7 per troy ons, level terendah sejak awal Agustus. Sementara itu, harga emas Antam pada Kamis (15/10/2026) turun Rp13.000 menjadi Rp2.561.000 per gram. Dalam kondisi pasar yang berfluktuasi, investor perlu memahami risiko masing-masing logam sebelum menentukan strategi investasi hingga akhir tahun. Emas cenderung dipilih untuk menjaga nilai aset, sedangkan perak berpotensi memberikan keuntungan lebih besar saat harga naik. Namun, perak juga memiliki risiko penurunan harga yang lebih tajam. Emas dan perak sama-sama mencatat rekor harga pada 29 Januari 2026, masing-masing sebesar US$5.501,70 dan US$118,45 per troy ons. Namun, hingga akhir Juni, harga emas turun sekitar 26,8%, sedangkan perak anjlok 50,4% atau hampir 1,9 kali lebih dalam. Menurut World Gold Council, emas memiliki permintaan yang lebih seimbang, likuiditas tinggi, dan pergerakan harga yang relatif lebih stabil. Sementara itu, perak lebih rentan mengalami penurunan saat ekonomi melemah karena sebagian besar permintaannya berasal dari sektor industri. Pembeli di harga rekor Januari sudah menanggung kerugian besar. Dengan modal Rp100 juta pada 29 Januari, nilai investasi emas menjadi sekitar Rp73,2 juta pada akhir Juni, sedangkan perak sekitar Rp49,6 juta, sebelum memperhitungkan kurs, spread, dan pajak. Simulasi artikel menunjukkan perak berpotensi menghasilkan keuntungan lebih besar saat harga naik, tetapi juga dapat mengalami kerugian lebih dalam ketika harga turun. Artikel menyarankan emas sebagai inti portofolio logam mulia dan perak sebagai pelengkap, dengan memperhitungkan biaya transaksi, jangka waktu, dan toleransi risiko. Penurunan harga emas belakangan ini dipengaruhi data inflasi Amerika Serikat pada September 2026 yang mencapai 3,7% secara tahunan. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan di level tinggi, yang cenderung menekan harga emas. Ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak, pelemahan data ekonomi AS, permintaan sektor energi terbarukan, kebijakan suku bunga The Fed, arah dolar AS, dan nilai tukar rupiah juga disebut memengaruhi pergerakan harga.
Perbandingan Risiko Investasi Emas dan Perak hingga Akhir 2026
Investasi perak lebih berisiko dibanding emas hingga akhir 2026. Harga perak turun lebih dari 50%, sedangkan emas turun 27% sejak rekor Januari 2026.

Analisis Dampak Berita
Masuk untuk meminta analisis dampak berita ini.
MasukKomentar (0)
Masuk untuk memberikan komentar.
Baca juga
Hadapi Dinamika Pasar di Kuartal IV-2026, Begini Strategi Investasi dari AllianzGI
AllianzGI Indonesia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif tangguh, tetapi pasar menghadapi tantangan dari kebijakan The Fed, imbal hasil US Treasury, serta perkembangan politik dan regulasi domestik. Perusahaan menekankan pendekatan selektif di saham dan pengelolaan risiko durasi serta likuiditas di obligasi.
Sumber Berita: Kontan
Newsroom · 15 Okt 2026, 19.27 WIB
Kebijakan Moneter AS Bikin Bursa Asia Keok di Perdagangan Kamis (15/10)
Bursa Asia melemah pada Kamis (15/10/2026) setelah inflasi AS kembali melampaui perkiraan dan investor menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan moneter. Rully Arya Wisnubroto menilai volatilitas berpotensi tetap tinggi, meski peluang pemulihan selektif masih ada.
Sumber Berita: Kontan
Newsroom · 15 Okt 2026, 19.27 WIB
0Aturan Baru OJK: Rencana Bisnis Bank Harus Realistis dan Berbasis Risiko
OJK menerbitkan POJK Nomor 17 Tahun 2026 tentang Rencana Bisnis Bank Umum, sebagai pembaruan aturan tahun 2016. OJK menyatakan aturan ini ditujukan untuk mendukung sistem perbankan yang sehat dan memperkuat perencanaan bisnis yang adaptif terhadap perkembangan industri, digitalisasi, dan dinamika ekonomi.
Sumber Berita: Kompas
Newsroom · 15 Okt 2026, 19.16 WIB
