JAKARTA, investor.id – Naiknya biaya pendanaan (cost of fund) berimbas pada penerbitan surat utang atau obligasi korporasi yang terkontraksi sebesar 12,75% menjadi Rp139,65 triliun hingga September 2026. Tekanan biaya tersebut membuat kupon obligasi korporasi berperingkat single A untuk tenor tertentu harus mengalami penyesuaian hingga menembus 8%. Kepala Divisi Riset Ekonomi PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) Suhindarto menjelaskan bahwa penerbitan surat utang korporasi yang mengalami moderasi sepanjang sembilan bulan 2026 utamanya dipengaruhi oleh kenaikan biaya pendanaan. Tekanan ini mulai terasa sejak kuartal II-2026, seiring dengan meningkatnya yield acuan di pasar, baik dari instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) maupun Surat Berharga Negara (SBN). Kenaikan yield acuan kemudian tercermin pada kupon surat utang korporasi yang terbentuk di pasar. Meskipun pergerakan kupon mulai melandai pada Agustus dan September, tingkatnya masih relatif tinggi dibandingkan awal tahun atau periode sama 2025. “Seiring dengan biaya bunga yang relatif lebih tinggi ini, penerbitan surat utang korporasi pada 2026 relatif mengalami moderasi,” ujarnya dalam Pefindo Press Conference, Rabu (14/10/2026). Berdasarkan data yang dipaparkan Pefindo, rata-rata kupon surat utang berperingkat AAA dengan tenor satu tahun mencapai sekitar 6,5% hingga September 2026. Angka tersebut meningkat daripada tahun sebelumnya yang masih berada sedikit di atas 6%. Sementara itu, kupon surat utang berperingkat single A telah berada di atas 8%. Untuk instrumen berperingkat double A, kupon tenor tiga dan lima tahun juga telah melampaui 7%. Perbedaan tingkat kupon tersebut menunjukkan bahwa biaya pendanaan yang harus ditanggung perusahaan tidak hanya dipengaruhi kondisi suku bunga dan yield acuan, tetapi juga berkaitan dengan peringkat kredit penerbit serta tenor surat utang yang diterbitkan. Tekanan biaya pendanaan turut mengubah strategi emiten dalam menentukan jangka waktu surat utang. Pefindo mencatat, instrumen bertenor satu tahun mendominasi penerbitan selama sembilan bulan 2026 dengan proporsi 34,77% dari total penerbitan. Komposisi tersebut berbeda ketimbang tahun lalu ketika tenor lima tahun relatif lebih diminati. Saat biaya pendanaan masih rendah, emiten cenderung memanfaatkan momentum untuk mengunci bunga yang lebih murah dalam jangka waktu lebih panjang. “Sebaliknya, ketika biaya dana meningkat, sebagian emiten memilih tenor pendek dengan harapan dapat melakukan refinancing saat surat utang jatuh tempo, terutama apabila kondisi suku bunga sudah lebih rendah,” tambahnya. Meski dapat menjadi strategi untuk mengantisipasi perubahan suku bunga, pendekatan tersebut juga membuat perusahaan perlu memperhitungkan kemampuan memperoleh pendanaan kembali pada saat jatuh tempo. Apabila biaya dana tetap tinggi, refinancing berpotensi dilakukan dengan beban bunga yang lebih mahal. Perubahan strategi juga terlihat dari komposisi penerbitan berdasarkan peringkat kredit. Porsi penerbitan surat utang berperingkat AAA turun menjadi 41,29% dari total penerbitan, sedangkan peringkat single A meningkat menjadi 39,84% dan double A mencapai 18,7%. Pefindo menjelaskan, pada 2025, emiten berperingkat AAA memanfaatkan biaya dana yang lebih murah sehingga mendominasi penerbitan surat utang dengan porsi yang sebelumnya mendekati 60%. Namun, ketika biaya pendanaan meningkat pada 2026, proporsi penerbitan kelompok tersebut menurun. Di sisi lain, penerbitan surat utang berperingkat BBB masih sangat terbatas yakni sekitar 0,18% dari total penerbitan hingga September 2026. Pefindo juga menilai, emiten dengan peringkat AA ke atas berpotensi tetap lebih aktif menerbitkan surat utang karena biaya pendanaannya relatif lebih rendah dibandingkan rata-rata suku bunga kredit perbankan. Sebaliknya, bagi penerbit dengan peringkat lebih rendah, biaya pendanaan di pasar surat utang dapat menjadi kurang kompetitif dibandingkan sumber pembiayaan alternatif. Di tengah tekanan biaya dana, Pefindo masih melihat peluang pertumbuhan pasar surat utang korporasi hingga akhir tahun. Penerbitan surat utang korporasi sepanjang 2026 diproyeksikan mencapai Rp175 triliun hingga Rp180 triliun. Proyeksi tersebut mempertimbangkan kebutuhan refinancing pada kuartal IV-2026 yang diperkirakan mencapai Rp43,56 triliun. Hingga akhir September 2026, nilai surat utang korporasi yang beredar atau outstanding tercatat sebesar Rp576,4 triliun, lebih tinggi dibandingkan posisi akhir 2025. Hal ini menunjukkan bahwa meski penerbitan baru mengalami kontraksi secara tahunan, pasar surat utang korporasi masih mencatatkan pertumbuhan outstanding. Karena itu, Pefindo menilai, pasar surat utang korporasi Indonesia masih relatif solid. “Namun, perkembangan biaya pendanaan akan menjadi faktor penting yang menentukan keputusan emiten dalam menggalang dana, termasuk dalam memilih antara penerbitan obligasi, pinjaman perbankan, maupun sumber pendanaan internal,” pungkas Suhindarto.