PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyematkan profil risiko moderately high atau cukup tinggi untuk sektor konstruksi karena tekanan likuiditas yang dihadapi emiten kontraktor. Corporate Rating Analyst Pefindo Resnanda Dahono mengatakan, dalam sembilan bulan pertama 2026, pemeringkatan di Divisi Non-Jasa Keuangan II didominasi sektor konstruksi, pengembang properti, dan bahan bangunan. Dari 108 publikasi atas 56 entitas, pemantauan khusus menjadi jenis aksi pemeringkatan terbanyak. Penyesuaian peringkat dan prospek negatif banyak terjadi pada emiten di bawah kategori layak investasi atau di bawah BBB-. Pefindo mengaitkannya dengan gelombang PKPU, restrukturisasi utang, dan gagal bayar di sektor konstruksi serta properti. Per 30 September 2026, Pefindo mencatat 23 aksi pemeringkatan di divisi tersebut, dengan 11 aksi pada kuartal III yang mayoritas terkait restrukturisasi utang dan pemulihan pasca-gagal bayar. Sejumlah emiten yang menyelesaikan restrukturisasi mendapat peningkatan peringkat dari Default atau CCC ke Single B. Resnanda menyebut tekanan likuiditas dan normalisasi pertumbuhan kontrak baru membatasi ruang gerak kontraktor. Relokasi anggaran beberapa tahun terakhir turut membuat prospek kontrak baru tidak seagresif sebelumnya. Meski demikian, beberapa BUMN Karya dan kontraktor swasta masih mencatat kinerja keuangan dan operasional yang wajar. Pada peringkat Triple A, Pefindo menyebut perusahaan pemimpin pasar di sektor infrastruktur dan transportasi, termasuk Pelindo, Angkasa Pura, dan KAI.