Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menilai investor perlu mencermati penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia, tetapi tidak menjadikannya satu-satunya acuan dalam mengambil keputusan investasi. Dradjad mengakui MSCI memiliki reputasi tinggi dan penilaiannya perlu diperhatikan. Namun, ia mengingatkan bahwa rekomendasi atau kinerja indeks yang berkaitan dengan MSCI tidak selalu memberikan hasil terbaik bagi investor. “MSCI itu punya reputasi tinggi, ini iya, bahwa kita juga perlu memperhatikan apa yang mereka sampaikan, iya. Tapi satu yang ingin saya sampaikan, mereka tidak selalu benar,” katanya. Dradjad mencontohkan analisis Deutsche Börse di Jerman. Menurutnya, analisis tersebut menunjukkan ketika indeks DAX menguat, MSCI World justru mencatatkan kinerja negatif pada periode yang dibandingkan. Ia juga menyebut sejumlah simulasi menunjukkan imbal hasil investasi berdasarkan MSCI kalah dibandingkan alternatif lain. Menurut Dradjad, salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah besarnya bobot saham Amerika Serikat dalam MSCI. “Karena memang MSCI ini saham-sahamnya itu 70 persen didominasi saham Amerika, kemudian 30 persen didominasi oleh saham teknologi. Jadi ada bias Amerika di situ, maksudnya bukan bias Amerika, ada terlalu, bobot Amerika terlalu besar di situ,” kata Dradjad. Ia meminta investor domestik melakukan perhitungan dan analisis secara mandiri untuk menilai potensi investasi di pasar modal Indonesia. Meski mengkritisi penilaian MSCI, Dradjad menegaskan pemerintah tetap akan melanjutkan reformasi tata kelola pasar modal Indonesia, terlepas dari keputusan lembaga indeks tersebut. Ia juga menyebut perlunya penguatan penegakan hukum di pasar modal sebagai kebutuhan pemerintah, bukan semata-mata karena sorotan MSCI.
MSCI Ancam Turunkan Kasta BEI, Wamenko Dradjad: Mereka Tidak Selalu Benar
Wamenko Perekonomian Dradjad Hari Wibowo meminta investor memperhatikan penilaian MSCI, tetapi tidak menjadikannya satu-satunya acuan investasi. Ia menyatakan pemerintah tetap akan melanjutkan reformasi tata kelola dan penguatan penegakan hukum pasar modal.
Diperbarui:

Analisis Dampak Berita
Masuk untuk meminta analisis dampak berita ini.
MasukKomentar (0)
Masuk untuk memberikan komentar.
Baca juga
0Wall Street Anjlok, Saham AI Tertekan dan Harga Minyak Melonjak
Bursa AS melemah pada Jumat (16/10), tertekan saham teknologi terkait AI dan kenaikan harga minyak. Nasdaq turun 2,19%, S&P 500 1,22%, dan Dow Jones 0,55%; investor juga mencermati inflasi serta arah suku bunga The Fed.
Sumber Berita: Kontan
Newsroom · 17 Okt 2026, 08.16 WIB
0Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 (16 Oktober 2026), Asing Net Sell Rp3,34 T
Perdagangan saham LQ45 pada 16 Oktober diwarnai koreksi massal, dengan nilai transaksi bursa Rp32 triliun dan net sell asing Rp3,34 triliun. PGAS memimpin penurunan di kelompok saham PER rendah, sementara GOTO mencatat koreksi paling ringan di kelompok PER tinggi.
Sumber Berita: Kontan
Newsroom · 17 Okt 2026, 08.16 WIB
0Penegakan Hukum Lambat, Ancaman MSCI Datang Lebih Cepat
IHSG merosot 11,57% ke 5.185,10 pada Jumat (16/10), bersamaan dengan net sell investor asing Rp3,34 triliun. Kontan menyoroti bahwa usulan MSCI untuk mengubah status Indonesia menjadi standalone market muncul sebelum OJK mengumumkan sanksi atas sejumlah pelanggaran pasar modal.
Sumber Berita: Kontan
Newsroom · 17 Okt 2026, 08.16 WIB
