Sembilan koma enam puluh empat juta barel. Itulah cadangan penyangga bensin yang ditetapkan negara, kira-kira cukup untuk dua pekan konsumsi nasional bila kelak terpenuhi. Angka sebesar itu terdengar menenangkan, sampai muncul pertanyaan: berapa lama sebuah pulau bertahan bila satu gardu padam atau satu kapal terlambat sandar? Pertengahan Oktober ini, Batam dan Bali menjawabnya. Ukurannya ternyata bukan pekan, melainkan hitungan jam. Pada Senin (12/10/2026) pagi, sistem kelistrikan Batam dan Bintan padam menyeluruh sejak sekitar pukul 06.30 WIB. Lebih dari 400.000 pelanggan kehilangan listrik, sebagian hampir 16 jam, dengan dampak pada pengolahan air bersih, lampu lalu lintas, dan Bandara Hang Nadim. PLN Batam menduga hewan liar masuk ke Gardu Induk Sungai Harapan, sementara Menteri ESDM menyebut petir dan kelelawar di antara tiga gangguan teknis. Pemicunya mungkin berlapis, tetapi penulis mempertanyakan mengapa gangguan di beberapa titik dapat merobohkan seluruh sistem sebuah pulau. Hampir bersamaan, Pertalite dan Pertamax habis di banyak SPBU di Bali. Pertamina menjelaskan kapal tanker kesulitan membuang jangkar sehingga bongkar muat yang dijadwalkan pukul 06.30 WITA mundur hingga sekitar pukul 22.00 WITA. Namun, kelangkaan sudah terasa sejak 11 Oktober, sehari sebelum kapal itu bermasalah, dan antrean di Denpasar terlihat sejak awal bulan. Pada 15 Oktober, antrean di Karangasem masih mengular dua kilometer, meski Pertamina menjadwalkan tambahan 44,9 juta liter Pertalite dan 13 juta liter Pertamax secara bertahap hingga 17 Oktober. Kolom tersebut menyimpulkan keterlambatan kapal adalah pemicu, sementara stok yang sudah tipis menjadi penyebab kerentanan. Dalam kelistrikan, kriteria N-1 menuntut jaringan tetap menyala ketika satu komponen utama lepas; penulis menilai persoalannya bukan ketiadaan kriteria, melainkan tidak adanya laporan terbuka tentang kepatuhan.