Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan bahwa kebijakan fiskal lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan investasi strategis Danantara Indonesia harus saling melengkapi untuk mempercepat transformasi ekonomi Indonesia. Lewat sinergi itu, belanja negara memperkuat fondasi produktivitas, sedangkan investasi mendorong kegiatan ekonomi produktif yang menghasilkan nilai tambah. “Strategi menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi membutuhkan pembiayaan memadai. Namun, persoalannya bukan hanya seberapa besar dana dapat dimobilisasi, melainkan juga bagaimana setiap rupiah belanja dan investasi menghasilkan manfaat ekonomi,” kata Juda dalam Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta, Selasa (13/10/2026). Menurut Juda, kebijakan fiskal dan investasi strategis merupakan dua instrumen yang harus bekerja terkoordinasi. APBN berperan membangun fondasi ekonomi melalui pembiayaan sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur, ketahanan pangan, energi, dan perlindungan sosial. Selain itu, APBN dapat membantu mengurangi risiko investasi, meningkatkan kelayakan proyek, serta menarik partisipasi sektor swasta. Dengan demikian, belanja negara tidak hanya memenuhi kebutuhan pembangunan, tetapi juga menciptakan kondisi yang memungkinkan dunia usaha berkembang dan meningkatkan kapasitas produksinya. Meski demikian, Juda mengingatkan bahwa ruang fiskal harus dikelola secara hati-hati untuk menjaga kredibilitas pemerintah dan kemampuan negara menghadapi berbagai guncangan ekonomi. “Disiplin fiskal bukan penghambat pertumbuhan. Disiplin fiskal menjaga kredibilitas dan kemampuan pemerintah menghadapi guncangan,” ujarnya. Juda menekankan, orientasi kebijakan fiskal perlu bergeser dari sekadar besarnya belanja menuju hasil yang terukur, seperti peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja berkualitas, penguatan fondasi ekonomi, dan pertumbuhan sektor riil. Menurut dia, kemampuan sektor swasta tumbuh secara berkelanjutan akan berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja, pemulihan daya beli, pertumbuhan ekonomi, dan pemerataan kesejahteraan. “APBN tidak mungkin membiayai seluruh kebutuhan pembangunan. Karena itu, kebijakan fiskal perlu membuka ruang bagi investasi swasta atau menciptakan efek crowding in, bukan menggantikan peran sektor usaha,” jelas Juda. Sementara itu, Danantara diposisikan sebagai instrumen untuk memobilisasi modal jangka panjang, mengembangkan nilai aset, dan mendorong investasi strategis yang mendukung transformasi ekonomi nasional. Namun, Juda mengingatkan bahwa mobilisasi modal saja tidak cukup untuk menghasilkan pertumbuhan berkelanjutan. Investasi harus diarahkan pada proyek yang layak secara ekonomi dan bermanfaat jelas, serta didukung tata kelola yang profesional dan transparan. Pentingnya sinergi pemerintah dan Danantara untuk memicu geliat sektor swasta itu sejalan dengan temuan Prasasti Center dalam riset The Missing Graduation yang diluncurkan pada Prasasti Indonesia Policy Forum 2026. Forum tersebut turut menghadirkan peraih Nobel Ekonomi 2024, James A. Robinson. Riset tersebut menyoroti tantangan Indonesia dalam mendorong perusahaan berkembang dari usaha mikro dan kecil menjadi berskala lebih besar. Prasasti mencatat Indonesia memiliki sekitar 26,4 juta usaha nonpertanian. Namun, hampir seluruhnya masih tergolong usaha mikro atau kecil, dan hanya sebagian kecil yang berhasil berkembang menjadi usaha menengah atau besar.
Juda Agung: APBN dan Danantara Harus Saling Melengkapi untuk Pacu Sektor Riil
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan APBN dan investasi strategis Danantara perlu saling melengkapi untuk mempercepat transformasi ekonomi. APBN menopang fondasi produktivitas, sementara investasi diarahkan untuk mendorong kegiatan produktif dan bernilai tambah.

Analisis Dampak Berita
Masuk untuk meminta analisis dampak berita ini.
MasukKomentar (0)
Masuk untuk memberikan komentar.
Baca juga
0Danantara Indonesia Trust Siapkan Dana Filantropi Rp1,79 Triliun per Tahun
Danantara Indonesia Trust berkomitmen mengalokasikan dana filantropi minimal US$100 juta atau setara Rp1,79 triliun per tahun untuk program sosial dan kesehatan.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 15 Okt 2026, 21.21 WIB
0Prodia (PRDA) Bakal Gelar Stock Split Saham Rasio 1:5
PT Prodia Widyahusada berencana melakukan stock split dengan rasio 1:5. Perseroan menyebut langkah ini bertujuan memperluas basis investor dan membuat harga saham lebih terjangkau.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 15 Okt 2026, 21.21 WIB
0Low Tuck Kwong Borong 100 Juta Saham BYAN Senilai Rp1,12 Triliun
Direktur Utama Bayan Resources Low Tuck Kwong membeli sekitar 100 juta saham BYAN senilai Rp1,12 triliun untuk tujuan investasi. Setelah transaksi, kepemilikan sahamnya meningkat menjadi 10,25% dari hak suara.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 15 Okt 2026, 21.21 WIB
