Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok hingga 2,31% pada perdagangan sesi I hari ini, ditekan oleh sentimen negatif eksternal yang bertubi-tubi. Berdasarkan data RTI Infokom, IHSG turun 2,31% menjadi 5.085,82 pada Kamis (15/10/2026) pukul 10.55 WIB. Hanya 84 saham yang mampu menguat, 657 melemah, dan 222 saham stagnan. Analis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya menjelaskan sejumlah sentimen dari global menekan langkah IHSG, seperti data inflasi AS yang di atas ekspektasi hingga eskalasi konflik di kawasan negara Arab. Penguatan dolar AS berpotensi menekan rupiah dan meningkatkan risiko arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang. Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat indeks harga konsumen atau CPI September meningkat 3,7% secara tahunan dari 3,4% pada Agustus 2026, melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,6%. Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi sejak inflasi mencapai puncak tiga tahun sebesar 4,2% pada Mei 2026. Analis juga menyoroti eskalasi konflik geopolitik. Ancaman Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi dapat meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dan volatilitas harga minyak. Data perdagangan China menguat, dengan surplus dagang September US$133,53 miliar, ekspor tumbuh 36,3% dan impor 31% secara tahunan. Peningkatan impor menopang permintaan komoditas Indonesia, tetapi dampaknya terhadap IHSG tertahan sentimen global negatif. Secara teknikal, pelemahan IHSG telah menembus area support 5.850. Pola head and shoulders mengindikasikan risiko bearish setelah IHSG gagal bertahan di atas 6.000. Support berikutnya dinilai berada di 5.745 dan 5.616, sedangkan resistance diprediksi di 5.850—6.000. Sejumlah indeks Asia juga melemah, termasuk Shanghai Composite, Nikkei, Hang Seng, dan KOSPI.
Ini Biang Kerok IHSG Ambrol 2,31%, Waspada Koreksi Lanjutan
IHSG turun 2,31% ke 5.085,82 akibat sentimen negatif global, seperti inflasi AS dan konflik geopolitik. Analis memperingatkan risiko koreksi lanjutan.

Analisis Dampak Berita
Masuk untuk meminta analisis dampak berita ini.
MasukKomentar (0)
Masuk untuk memberikan komentar.
Baca juga
Hadapi Dinamika Pasar di Kuartal IV-2026, Begini Strategi Investasi dari AllianzGI
AllianzGI Indonesia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif tangguh, tetapi pasar menghadapi tantangan dari kebijakan The Fed, imbal hasil US Treasury, serta perkembangan politik dan regulasi domestik. Perusahaan menekankan pendekatan selektif di saham dan pengelolaan risiko durasi serta likuiditas di obligasi.
Sumber Berita: Kontan
Newsroom · 15 Okt 2026, 19.27 WIB
Kebijakan Moneter AS Bikin Bursa Asia Keok di Perdagangan Kamis (15/10)
Bursa Asia melemah pada Kamis (15/10/2026) setelah inflasi AS kembali melampaui perkiraan dan investor menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan moneter. Rully Arya Wisnubroto menilai volatilitas berpotensi tetap tinggi, meski peluang pemulihan selektif masih ada.
Sumber Berita: Kontan
Newsroom · 15 Okt 2026, 19.27 WIB
0Aturan Baru OJK: Rencana Bisnis Bank Harus Realistis dan Berbasis Risiko
OJK menerbitkan POJK Nomor 17 Tahun 2026 tentang Rencana Bisnis Bank Umum, sebagai pembaruan aturan tahun 2016. OJK menyatakan aturan ini ditujukan untuk mendukung sistem perbankan yang sehat dan memperkuat perencanaan bisnis yang adaptif terhadap perkembangan industri, digitalisasi, dan dinamika ekonomi.
Sumber Berita: Kompas
Newsroom · 15 Okt 2026, 19.16 WIB
