Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi masih menghadapi tekanan pada sesi kedua perdagangan Jumat (16/10/2026), menyusul aksi jual panik (panic selling) setelah MSCI mengumumkan konsultasi terkait usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia. Pada awal perdagangan sesi II, IHSG hari ini terlihat jatuh 633,96 poin (10,79%) ke 5.231. Pada sesi pertama, IHSG anjlok 630,78 poin atau 10,76% ke level 5.233. Indeks bahkan sempat mengalami penghentian sementara perdagangan (trading halt) pada awal sesi setelah penurunannya melampaui 8%. Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, tekanan jual yang terjadi saat ini dipicu kepanikan pasar merespons rencana MSCI mengevaluasi klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. “Betul, panic selling MSCI,” ujar analis yang akrab disapa Didit ini kepada Investor Daily, Jumat (16/10/2026). Menurut dia, investor perlu mencermati bahwa perubahan klasifikasi tersebut masih berupa usulan atau proposal, bukan keputusan final. Proses konsultasi MSCI memiliki tenggat hingga 2027 sehingga masih terdapat waktu bagi otoritas pasar modal untuk melakukan pembenahan. Herditya menilai, situasi tersebut dapat dimanfaatkan oleh penyelenggara mandiri regulasi (self-regulatory organization/SRO) untuk memperbaiki berbagai aspek pasar modal, terutama yang berkaitan dengan kepercayaan investor. Meskipun tekanan jual masih berpotensi berlanjut pada sesi kedua, Didit mengatakan, IHSG memiliki peluang terbatas untuk menembus level 5.200 pada perdagangan hari ini. “Untuk IHSG sesi II tekanan dimungkinkan masih ada, namun demikian hari ini untuk break 5200 kemungkinannya kecil,” tutupnya.