Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka melemah terseret oleh pelemahan harga saham seperti GOTO, WIFI, hingga ISAT. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka melemah 0,72% ke level 5.900,15 pada Kamis (15/10/2026). Sebanyak 103 saham menguat, 400 melemah, dan 460 saham stagnan. Penguatan harga saham dialami oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang naik 0,76% ke Rp3.990, PT United Tractors Tbk. (UNTR) naik 0,40% ke Rp25.100, dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGAS) yang naik 0,36% ke Rp1.395. Sebaliknya, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) turun 7,14% ke Rp26, PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) turun 3,65% ke Rp1.320, PT Indosat Tbk. (ISAT) turun 2,83% ke Rp2.060, atau PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) turun 2,42% ke Rp805. Hal serupa dialami oleh PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) yang turun 2,27% ke Rp1.510, PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) turun 2,24% ke Rp1.530, dan PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) turun 2,10% ke Rp1.400. PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) turun 1,82% ke Rp162, PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) turun 1,72% ke Rp1.995, dan PT Indika Energy Tbk. (INDY) turun 1,57% ke Rp2.510. Adapun pelemahan IHSG pada perdagangan hari ini berbanding terbalik dengan laju yang sempat ditorehkan indeks pada penutupan perdagangan kemarin, Rabu (14/10/2026). Saat itu, indeks ditutup naik 0,29% ke level 5.943,02. Kurang dari sepekan diperdagangkan, laju indeks belakangan memang tampak lesu. Dari sebanyak 3 hari perdagangan, hanya 1 hari indeks ditutup menguat hingga akhir perdagangan. Sisanya, indeks bergerak lesu dan berangsur-angsur meninggalkan level 6.000. Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai perhatian pasar pada perdagangan hari ini akan tertuju pada dampak inflasi AS yang tercatat 3,7% YoY dan pergerakan indeks dolar serta yield UST. Menurutnya, inflasi yang lebih tinggi berisiko memperkuat dolar AS dan menjaga ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini dinilai dapat meningkatkan risiko outflow dari pasar emerging market yang menambah tekanan terhadap IHSG dan rupiah. “Secara teknikal, selama IHSG belum mampu menembus kembali level psikologis 6.000, kecenderungan pergerakan masih bearish dan rentan tertekan. Area 5.900–5.850 menjadi support penting yang perlu dipertahankan. Jika support tersebut ditembus, risiko pelemahan lanjutan perlu diwaspadai, sementara penembusan 6.000 diperlukan untuk memperbaiki momentum jangka pendek,” katanya dalam riset hariannya, Kamis (15/10/2026). Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.