Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian tertekan pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Hingga pukul 11.33 WIB, IHSG merosot 2,05% atau 122,12 poin ke level 5.820,90. Pelemahan ini membawa IHSG menembus level support 5.850. Tim analis BRI Danareksa Sekuritas menyebut, kondisi tersebut membuka risiko koreksi lanjutan, dengan level 5.745 menjadi support berikutnya yang perlu dicermati. Dalam analisis teknikalnya, tim analis BRI Danareksa Sekuritas juga menyoroti pola head and shoulders yang mengindikasikan kecenderungan bearish setelah IHSG gagal bertahan di atas area neckline 6.000. Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) yang masih negatif turut menunjukkan momentum pelemahan. Jika tekanan jual berlanjut dan IHSG menembus level 5.745, indeks berpotensi menguji support selanjutnya di 5.616, yang merupakan level Fibonacci 0,786. Sementara itu, area 5.850–6.000 menjadi rentang resistance yang perlu diperhatikan. Tekanan terhadap IHSG terjadi di tengah sentimen global yang belum kondusif. Salah satunya berasal dari inflasi Amerika Serikat (AS) yang melampaui perkiraan pasar. Inflasi konsumen AS atau Consumer Price Index (CPI) September tercatat sebesar 3,7% secara tahunan (year on year/YoY), lebih tinggi dibandingkan konsensus sebesar 3,6%. Adapun inflasi inti mencapai 2,6% YoY. Tim analis BRI Danareksa Sekuritas menyoroti potensi dampak penguatan dolar AS terhadap pasar keuangan negara berkembang. “Penguatan dolar AS berpotensi menekan rupiah dan meningkatkan risiko arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang,” tulis tim analis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya, Kamis (15/10/2026) Selain inflasi AS, eskalasi konflik di Timur Tengah turut membayangi pergerakan pasar. Ancaman Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi dan volatilitas harga minyak dunia. Di sisi lain, data perdagangan China memberikan sentimen positif bagi prospek komoditas. Surplus perdagangan China pada September mencapai US$ 133,53 miliar, dengan ekspor tumbuh 36,3% YoY dan impor meningkat 31% YoY. Kenaikan impor China berpotensi menopang permintaan komoditas Indonesia. Namun, sentimen tersebut berisiko belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari ketidakpastian global yang masih membayangi pasar keuangan. Pelaku pasar selanjutnya mencermati rilis data inflasi produsen AS atau Producer Price Index (PPI) September yang dijadwalkan rilis hari ini. Data ini akan menjadi perhatian untuk menilai tekanan biaya produsen dan implikasinya terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.