JAKARTA, KOMPAS.com - Center of Reform on Economics (CORE) menilai pemerintah perlu memastikan tujuan dan kebutuhan masyarakat sebelum merealisasikan rencana pembagian telepon seluler gratis bagi penerima bantuan sosial. Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal dan Moneter CORE Indonesia Akhmad Akbar S mengatakan, persoalan utama penyaluran bansos selama ini bukan terletak pada perangkat untuk mengakses bantuan, melainkan ketepatan penerima. Menurut Akbar, apabila masyarakat yang berhak menerima bansos justru tidak mendapat bantuan, sementara mereka yang tidak memenuhi kriteria malah menerimanya, persoalan tersebut berkaitan dengan pelaksanaan aturan penyaluran. Ia mempertanyakan urgensi pengadaan ponsel jika tujuannya hanya memudahkan penerima mengakses rekening bantuan, karena pemerintah dapat memanfaatkan fasilitas yang telah tersedia seperti ATM. Selain ketepatan sasaran, Akbar mengingatkan adanya biaya tambahan yang berpotensi ditanggung penerima setelah memperoleh ponsel gratis, misalnya membeli pulsa. Kemampuan penerima bansos dalam mengoperasikan ponsel juga perlu diperhitungkan. Ia turut menyoroti penambahan belanja pengadaan ponsel di tengah tekanan kebutuhan belanja negara dan pemangkasan anggaran kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah. Sebelumnya, Utusan Khusus Presiden RI Hashim Djojohadikusumo menyatakan pemerintah berencana membagikan ponsel gratis untuk mendukung penyaluran bansos. Program itu disebut sejalan dengan rencana pembukaan rekening bank gratis dan penyaluran bansos langsung ke rekening penerima.
HP Gratis untuk Penerima Bansos, Ekonom: Masalahnya Bukan di Situ
CORE menilai pemerintah perlu memastikan kebutuhan warga sebelum membagikan ponsel gratis bagi penerima bansos. Ekonom Akhmad Akbar S mengatakan persoalan utama penyaluran bansos adalah ketepatan penerima, serta mengingatkan biaya pulsa, kemampuan penggunaan perangkat, dan tambahan beban anggaran.

Analisis Dampak Berita
Masuk untuk meminta analisis dampak berita ini.
MasukKomentar (0)
Masuk untuk memberikan komentar.
Baca juga
0Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.938 per Dolar AS, Pasar Cermati Arah The Fed
Rupiah melemah 0,20% ke Rp17.938 per dolar AS pada Kamis (15/10/2026), sementara pelaku pasar mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed di tengah inflasi dan risiko geopolitik.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 15 Okt 2026, 23.06 WIB
0Danantara Indonesia Trust Siapkan Dana Filantropi Rp1,79 Triliun per Tahun
Danantara Indonesia Trust berkomitmen mengalokasikan dana filantropi minimal US$100 juta atau setara Rp1,79 triliun per tahun untuk program sosial dan kesehatan.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 15 Okt 2026, 21.21 WIB
0Prodia (PRDA) Bakal Gelar Stock Split Saham Rasio 1:5
PT Prodia Widyahusada berencana melakukan stock split dengan rasio 1:5. Perseroan menyebut langkah ini bertujuan memperluas basis investor dan membuat harga saham lebih terjangkau.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 15 Okt 2026, 21.21 WIB
