JAKARTA, KOMPAS.com - Harga minyak dunia bergerak beragam pada akhir perdagangan Selasa (13/10/2026) waktu Amerika Serikat atau Rabu (14/10/2026) pagi WIB. Pergerakan harga dipengaruhi harapan bertambahnya pasokan diesel dari Rusia melalui kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS), di tengah meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan akibat serangan di Arab Saudi dan Yaman. Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak terdekat turun 96 sen atau 0,9 persen menjadi 105,69 dollar AS per barrel. Penurunan terjadi setelah harga Brent pada perdagangan Senin (12/10/2026) ditutup di level tertinggi sejak 15 September 2026. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 40 sen atau 0,4 persen menjadi 94,14 dollar AS per barrel. Harga tersebut merupakan level penutupan tertinggi sejak 24 September 2026. Pasar saat ini mencermati kesepakatan ekspor diesel antara AS dan Rusia yang berpotensi menambah pasokan energi ke pasar global. Kremlin menyatakan tidak melihat adanya hubungan langsung antara kesepakatan ekspor diesel Rusia ke AS dan sikap Moskow dalam perundingan perdamaian Ukraina. Pernyataan tersebut disampaikan untuk menanggapi laporan Reuters yang mengutip sejumlah sumber bahwa utusan Presiden AS Donald Trump telah memberi tahu pejabat Ukraina pada Jumat (9/10/2026) mengenai kesepakatan negaranya dengan Rusia tersebut. Menurut laporan itu, kesepakatan yang memungkinkan ekspor diesel Rusia merupakan bagian dari upaya membawa Moskow kembali ke meja perundingan untuk mencapai kemungkinan penyelesaian damai di Ukraina. Berdasarkan data energi AS, Rusia merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia pada 2025, setelah AS dan Arab Saudi. Sanksi yang bertujuan membatasi masuknya energi Rusia ke pasar global turut menopang penguatan harga minyak sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 2022. Kesepakatan untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina berpotensi membuka peluang bagi Rusia untuk meningkatkan ekspor energinya. Trump menyatakan Washington masih berbagi informasi intelijen dengan Ukraina, meskipun pemerintahannya terus menekan Kyiv agar menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia. Trump juga mengatakan pasokan diesel Rusia ditujukan untuk pasar global, bukan untuk AS. Namun, pasar masih menunjukkan ketidakpastian terhadap kesepakatan diesel antara AS dan Rusia. Hal itu tercermin dari harga kontrak berjangka diesel AS yang naik sekitar 5 persen pada perdagangan Selasa. Dalam beberapa pekan terakhir, harga diesel telah mencapai rekor tertinggi di berbagai wilayah dunia akibat gangguan pasokan global. Gangguan tersebut antara lain dipicu serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia serta serangan Iran terhadap fasilitas energi di Timur Tengah.
Harga Minyak Dunia Bergerak Beragam, Pasar Cermati Pasokan dari Rusia dan Konflik Timur Tengah
Harga minyak bergerak berbeda pada perdagangan Selasa (13/10) waktu AS. Brent turun 0,9 persen menjadi 105,69 dollar AS per barrel, sementara WTI naik 0,4 persen menjadi 94,14 dollar AS. Pasar memperhatikan potensi tambahan pasokan diesel Rusia dan risiko gangguan pasokan akibat serangan di Arab Saudi dan Yaman.

Analisis Dampak Berita
Masuk untuk meminta analisis dampak berita ini.
MasukKomentar (0)
Masuk untuk memberikan komentar.
Baca juga
0Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.938 per Dolar AS, Pasar Cermati Arah The Fed
Rupiah melemah 0,20% ke Rp17.938 per dolar AS pada Kamis (15/10/2026), sementara pelaku pasar mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed di tengah inflasi dan risiko geopolitik.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 15 Okt 2026, 23.06 WIB
0Danantara Indonesia Trust Siapkan Dana Filantropi Rp1,79 Triliun per Tahun
Danantara Indonesia Trust berkomitmen mengalokasikan dana filantropi minimal US$100 juta atau setara Rp1,79 triliun per tahun untuk program sosial dan kesehatan.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 15 Okt 2026, 21.21 WIB
0Prodia (PRDA) Bakal Gelar Stock Split Saham Rasio 1:5
PT Prodia Widyahusada berencana melakukan stock split dengan rasio 1:5. Perseroan menyebut langkah ini bertujuan memperluas basis investor dan membuat harga saham lebih terjangkau.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 15 Okt 2026, 21.21 WIB
