Harga kebutuhan pokok di wilayah tertinggal, terpencil, terluar, dan perbatasan (3TP) dapat lebih mahal dibanding wilayah lain karena tantangan akses transportasi, jarak pengiriman, dan terbatasnya layanan angkutan komersial. Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kemenhub Capt. Budi Mantoro mengatakan Tol Laut dapat memperkuat distribusi logistik, sementara pelayaran perintis dibutuhkan agar masyarakat di daerah yang belum terlayani angkutan komersial tetap memiliki akses transportasi laut. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Bank Indonesia per 9 Oktober 2026, beras medium I di Papua berharga Rp 19.550 per kilogram, sedangkan rata-rata nasional Rp 16.650. Harga Papua lebih tinggi Rp 2.900 atau sekitar 17,4 persen. Pada 8 Oktober, beras medium I di Jayawijaya tercatat Rp 25.100 per kilogram dan di Merauke Rp 16.000, selisih Rp 9.100 atau sekitar 56,9 persen. Minyak goreng kemasan bermerek di Papua tercatat Rp 26.700 per kilogram pada 9 Oktober, dibandingkan rata-rata nasional Rp 23.600. Harga Papua lebih tinggi Rp 3.100 atau sekitar 13,1 persen. Di Jayawijaya, harga komoditas itu Rp 31.600 per kilogram pada 8 Oktober. Kemenhub menyatakan konektivitas logistik perlu diperkuat agar distribusi lebih efektif, pasokan kebutuhan masyarakat terjaga, dan disparitas harga antarwilayah ditekan. Pada semester I-2026, angkutan barang perintis atau Tol Laut mencatat 557 pelayaran dengan layanan di 100 pelabuhan dari wilayah barat hingga timur Indonesia.