JAKARTA, investor.id – Investor asing menggencarkan aksi jual bersih (net sell) bernilai jumbo di tengah tragedi indeks harga saham gabungan (IHSG) yang ambruk 678,6 poin (11,5%) ke level 5.185,1 pada penutupan perdagangan Jumat (16/10/2026). Asing banyak mengobral saham BBCA, BBRI, BMRI, dan ANTM. Net sell asing di seluruh pasar hari ini mencapai Rp 3,3 triliun. Dengan demikian, total net sell asing sepanjang tahun berjalan ini bertambah menjadi Rp 88,19 triliun – berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI). Net sell asing terbesar di pasar reguler hari ini melanda saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencapai Rp 2,3 triliun. Selain saham BBCA, asing juga banyak melepas saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Net sell asing pada saham BBRI sebesar Rp 1,1 triliun. Kemudian, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Antam Tbk (ANTM). Net sell asing pada saham BMRI sebesar Rp 868 miliar dan ANTM senilai Rp 137,79 miliar. Sebaliknya, transaksi beli bersih (net buy) terbanyak oleh investor asing terjadi pada saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencapai Rp 288,3 miliar. Lalu, saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dengan net buy asing senilai Rp 75,6 miliar. Sementara itu, hanya 11 saham terpantau naik, 812 saham turun, dan 140 saham stagnan. Total nilai transaksi di bursa mencapai Rp 31,75 triliun. Menurut Pilarmas Investindo Sekuritas, langkah MSCI menjadi perhatian pelaku pasar karena perubahan klasifikasi berpotensi membuat saham Indonesia dikeluarkan dari indeks utama MSCI yang menjadi acuan investasi global. Meski demikian, lanjut Pilarmas, perubahan status Indonesia belum menjadi keputusan final. MSCI menjadwalkan pengumuman hasil evaluasi dan reklasifikasi paling lambat pada akhir Juni 2027. Pelemahan tajam IHSG berlawanan dengan pergerakan bursa regional Asia yang menguat setelah Wall Street mencatat sesi positif pada perdagangan sebelumnya. Meredanya aksi jual saham teknologi turut menopang sentimen pasar global. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun juga turun, meski masih berada pada level tinggi. Sementara itu, investor global terus mencermati arah kebijakan moneter The Fed. Data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan memperbesar ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan. Namun, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 72% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini. Di sisi lain, harga minyak yang masih tinggi menambah kekhawatiran terhadap inflasi dan potensi pengetatan kebijakan moneter. Investor juga menantikan data ekonomi China, termasuk pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), yang dijadwalkan rilis pekan depan.