Kolom ini menyatakan bahwa Generasi Z tumbuh dengan akses teknologi yang melimpah, tetapi tidak selalu memiliki kesempatan ekonomi yang setara. Mereka dapat mengakses pengetahuan, membuka rekening, dan menggunakan kecerdasan buatan, sementara bagi sebagian anak muda pekerjaan layak, kepemilikan rumah, dan pembangunan kekayaan terasa semakin sulit. Penulis menyebut paradoks kemakmuran generasi digital: akses terhadap kemajuan semakin terbuka, tetapi kesempatan menikmati hasilnya tidak otomatis merata. Mengaitkan kesulitan finansial anak muda hanya dengan FOMO, doom spending, dan paylater dinilai terlalu sederhana. Pertanyaan yang diajukan ialah mengapa pendidikan, produktivitas, dan kerja keras tidak selalu membawa kemapanan. BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka Mei 2026 sebesar 4,65 persen, turun dari 4,68 persen pada Februari. Sebanyak 148,19 juta orang bekerja dengan rata-rata upah buruh Rp 3,39 juta per bulan; angka itu mencakup semua kelompok usia, bukan ukuran khusus Gen Z. Pendapatan harus digunakan untuk hunian, transportasi, keluarga, dan kebutuhan sehari-hari. Ketika kemampuan menabung terbatas sementara harga aset naik, pekerja muda lebih sulit mengumpulkan uang muka rumah atau modal usaha. Kolom mengaitkan ketimpangan bukan hanya dengan perbedaan gaji, tetapi juga perbedaan kepemilikan awal aset. Pemilik properti, saham, atau usaha berpeluang memperoleh kenaikan nilai, sedangkan pekerja tanpa aset harus menyisihkan pendapatan setelah kebutuhan pokok.