PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat penerbitan surat utang korporasi untuk kebutuhan modal kerja mengalami penurunan yang signifikan sepanjang periode Januari—September 2026. Head of Economic Research Division Suhindarto menerangkan bahwa penerbitan surat utang korporasi untuk kebutuhan modal kerja saat ini hanya sekitar 52,60% dari total penerbitan. Meskipun masih mendominasi, realisasi ini turun dari 61,53% pada periode yang sama 2025. Suhindarto membaca kondisi ini sebagai upaya emiten mencari alternatif pendanaan baru di tengah tingginya biaya pendanaan melalui penerbitan surat utang korporasi. Yield acuan SBN berada di level 7,16%, naik dari 6,11% pada 31 Desember 2025. Kombinasi ketegangan geopolitik hingga melemahnya rupiah turut mendorong lesunya yield acuan SBN. Kenaikan yield SBN turut membuat penerbitan surat utang korporasi mengalami peningkatan. Korporasi mesti memberikan daya tarik yang lebih besar daripada SBN yang memiliki risiko minim. “Ini memang seiring dengan kalau biaya dana tinggi biasanya perusahaan akan lebih mempertimbangkan untuk menggalang dana dengan tujuan modal kerja dari pasar. Dan biasanya memang mereka akan mencari alternatif pembiayaan lainnya, selain di pasar surat utang korporasi, baik itu dari internal kas sendiri atau dari pinjaman induk dan lain sebagainya,” katanya dalam konferensi pers Pefindo, Rabu (14/10/2026). Kebutuhan investasi bertumbuh menjadi 18,99% melalui penerbitan surat utang korporasi, dibandingkan 8,02% pada Januari—September 2025. Kebutuhan refinancing turun menjadi 28,39% dari sekitar 30,40% pada periode yang sama 2025. “Kalau kita lihat secara tujuan penerbitan di tahun 2026 ini, penerbitan untuk modal kerja relatif mengalami penurunan yang cukup signifikan dan yang mengalami peningkatan adalah penerbitan untuk investasi, sementara untuk yang refinancing relatif stabil,” tegasnya. Pefindo mencatat total penerbitan sepanjang tiga kuartal 2026 mencapai Rp139,65 triliun, turun dari Rp160,06 triliun pada periode yang sama 2025. Suhindarto menerangkan kenaikan biaya pendanaan menjadi salah satu alasan emiten menahan diri menerbitkan surat utang sepanjang tahun ini. Kenaikan biaya pendanaan tersebut dikontribusikan oleh melonjaknya yield acuan SBN dan SRBI, serta level tinggi BI Rate.