JAKARTA, investor.id – Ketiadaan cetak biru (blueprint) ekonomi yang komprehensif dinilai menjadi salah satu hambatan terbesar dalam efektivitas pelaksanaan kebijakan ekonomi di Indonesia saat ini. Kondisi tersebut menyebabkan berbagai kebijakan antarlembaga berjalan tanpa arah yang terintegrasi, berisiko menimbulkan benturan kepentingan, hingga membuat alokasi anggaran negara menjadi tidak optimal. Penilaian tersebut disampaikan Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Satria Ramli saat menjadi narasumber dalam acara CORE Media Discussion di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pada Rabu (14/10/2026). Dipo menyoroti proses perumusan hingga eksekusi kebijakan ekonomi nasional yang dinilai belum terintegrasi secara utuh. Tanpa pemetaan menyeluruh, program-program pemerintah rentan berjalan secara parsial. Ia mengatakan salah satu masalah utama ekonomi Indonesia adalah tidak memiliki blueprint yang komprehensif. Menurut Dipo, Indonesia membutuhkan kejelasan arah pembangunan ekonomi secara makro. Peta jalan diperlukan agar instrumen kebijakan fiskal, strategi investasi, hingga program sektoral kementerian bergerak menuju satu target pembangunan yang seragam. Dipo mengatakan setiap instansi pemerintah cenderung bergerak sendiri-sendiri tanpa koordinasi matang. Setiap lembaga membuat kebijakan berdasarkan pendekatan dan sasaran berbeda sehingga kehilangan keselarasan dalam satu kerangka pembangunan nasional. Ketidaksinkronan itu menjadi persoalan ketika pemerintah telah mengalokasikan anggaran dalam jumlah besar kepada berbagai kementerian maupun proyek strategis. Besarnya penyerapan anggaran belanja negara, menurutnya, tidak otomatis mencerminkan efektivitas output maupun dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. Dipo juga menilai ketiadaan cetak biru ekonomi memicu potensi gesekan dan benturan kewenangan antarlembaga. Kebijakan satu kementerian dapat bertolak belakang atau saling menegasikan kebijakan kementerian lain. CORE Indonesia mendesak pemerintah merumuskan arah pembangunan ekonomi yang komprehensif serta memperkuat koordinasi antarkementerian agar alokasi anggaran dan pelaksanaan program saling mendukung. Artikel juga menyoroti bahwa lemahnya sinkronisasi kebijakan antarkementerian menjadi tantangan tata kelola pemerintahan. Peta jalan jangka panjang yang terintegrasi dibutuhkan untuk mendukung kesinambungan program seperti hilirisasi industri, transisi energi hijau, ketahanan pangan, dan efisiensi rantai pasok. Tanpa blueprint nasional, alokasi APBN berisiko terserap untuk program jangka pendek yang tumpang tindih.
Ekonom CORE Indonesia: Ketiadaan Blueprint Ekonomi dapat Picu Benturan Kepentingan
Ekonom CORE Indonesia Dipo Satria Ramli menilai ketiadaan cetak biru ekonomi yang komprehensif menghambat efektivitas kebijakan. Kebijakan antarlembaga yang tidak terintegrasi berisiko memicu benturan kepentingan dan membuat alokasi anggaran tidak optimal.

Analisis Dampak Berita
Masuk untuk meminta analisis dampak berita ini.
MasukKomentar (0)
Masuk untuk memberikan komentar.
Baca juga
0Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.938 per Dolar AS, Pasar Cermati Arah The Fed
Rupiah melemah 0,20% ke Rp17.938 per dolar AS pada Kamis (15/10/2026), sementara pelaku pasar mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed di tengah inflasi dan risiko geopolitik.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 15 Okt 2026, 23.06 WIB
0Danantara Indonesia Trust Siapkan Dana Filantropi Rp1,79 Triliun per Tahun
Danantara Indonesia Trust berkomitmen mengalokasikan dana filantropi minimal US$100 juta atau setara Rp1,79 triliun per tahun untuk program sosial dan kesehatan.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 15 Okt 2026, 21.21 WIB
0Prodia (PRDA) Bakal Gelar Stock Split Saham Rasio 1:5
PT Prodia Widyahusada berencana melakukan stock split dengan rasio 1:5. Perseroan menyebut langkah ini bertujuan memperluas basis investor dan membuat harga saham lebih terjangkau.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 15 Okt 2026, 21.21 WIB
