Danantara Indonesia melalui PT Danantara Development Management Fund (DDMF) menegaskan bahwa investasi strategis yang masuk ke Indonesia membutuhkan standar penilaian baru. Indikator investasi saat ini tidak boleh lagi berfokus semata pada imbal hasil finansial, melainkan harus mencakup lima aspek dampak pembangunan nyata. Managing Director Development Investment DDMF, M. Rachmat Kaimuddin, menjelaskan bahwa keberhasilan proyek strategis harus diukur dari kontribusinya terhadap transformasi ekonomi nasional jangka panjang. Untuk itu, sedikitnya ada lima hal yang diusung menjadi standar baru investasi strategis di Indonesia. “Investasi pembangunan tidak cukup dinilai dari imbal hasil finansial. Ukurannya harus mencakup tambahan kapasitas produksi, pekerjaan berkualitas, penguatan industri dan inovasi, pemerataan manfaat antarwilayah, serta ketahanan ekonomi dalam jangka panjang,” kata Rachmat dalam keterangan resminya, Jumat (16/10/2026). Rachmat menambahkan, DDMF berkomitmen memastikan setiap dana investasi yang disalurkan dapat dipertanggungjawabkan melalui dampak yang konkret, nyata, dan terukur bagi perekonomian Indonesia. Kebutuhan akan cara pandang baru ini krusial mengingat proyek-proyek pembangunan—seperti infrastruktur dasar, hilirisasi, energi, pangan, dan pendidikan—sering kali menghadapi tantangan kelayakan finansial jangka pendek. Meskipun pengembalian komersialnya terbatas pada tahap awal, proyek strategis memiliki dampak luas berupa peningkatan produktivitas, konektivitas, transfer teknologi, pengurangan emisi, hingga pembentukan ekosistem industri nasional. Sebagai pengemban mandat untuk menaungi Proyek Strategis Nasional (PSN), DDMF bertindak sebagai katalis (catalytic capital) yang menjembatani kebutuhan pembangunan dengan pembiayaan jangka panjang melalui kolaborasi pemerintah, BUMN, swasta, dan investor institusional. Untuk mendukung kerangka tersebut, DDMF tengah merancang Danantara Dynamic Modelling Framework, sebuah kerangka pemodelan ekonomi struktural berbasis pendekatan Financial Computable General Equilibrium. Pemodelan ini dirancang untuk membaca alur dampak investasi dari waktu ke waktu, termasuk pengaruhnya terhadap Pendapatan Nasional, penyerapan tenaga kerja, penerimaan negara, hingga dinamika pembiayaan. Dalam pelaksanaannya, DDMF menekankan pentingnya mobilisasi modal internasional tanpa mengabaikan kestabilan makroekonomi. Peran modal katalis diarahkan untuk menurunkan risiko (de-risking), mematangkan proyek, dan membuka pintu bagi masuknya investasi swasta serta institusional. Rachmat menekankan, pengukuran setiap proyek strategis dilakukan secara komprehensif melalui tiga tingkatan: output jangka pendek, outcome jangka menengah, serta impact jangka panjang. Indikator penilaian tak hanya sebatas pertumbuhan pendapatan nasional, melainkan mencakup akumulasi pembelajaran, kapabilitas inovasi, adopsi teknologi, penguatan rantai pasok domestik, pemerataan regional, hingga efisiensi sumber daya dan pengurangan emisi.
Danantara Ungkap 5 Standar Baru Investasi Strategis di RI
Danantara menyatakan investasi strategis perlu dinilai bukan hanya dari imbal hasil finansial, tetapi juga dari kapasitas produksi, pekerjaan berkualitas, penguatan industri dan inovasi, pemerataan wilayah, serta ketahanan ekonomi jangka panjang.
Diperbarui:

Analisis Dampak Berita
Masuk untuk meminta analisis dampak berita ini.
MasukKomentar (0)
Masuk untuk memberikan komentar.
Baca juga
0Wall Street Anjlok Tertekan Saham Teknologi dan AI
Wall Street melemah pada Jumat (16/10/2026), terseret aksi jual saham teknologi dan semikonduktor serta lonjakan harga minyak. Nasdaq turun 2,14%, S&P 500 turun 1,09%, dan Dow Jones melemah 0,34%.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 17 Okt 2026, 06.40 WIB
0IHSG Anjlok 14,91%, Ini 10 Saham Top Gainers Sepekan
Sejumlah saham naik hingga hampir 100% pada pekan perdagangan 12–16 Oktober 2026, meski IHSG terkoreksi 14,91%. BIKE memimpin daftar top gainers dengan kenaikan 96,26%.
Sumber Berita: Bisnis Indonesia
Newsroom · 17 Okt 2026, 06.40 WIB
0Cadangan Devisa RI Cukup untuk 6 Bulan, CORE Wanti-wanti Arus Modal Keluar
CORE Indonesia mengingatkan pemerintah dan otoritas keuangan agar merespons gejolak pasar dengan cepat untuk mencegah arus keluar modal berkepanjangan. Cadangan devisa tercatat US$ 146,3 miliar pada akhir September 2026, setara 5,3 bulan impor atau mendekati enam bulan.
Sumber Berita: Investor
Newsroom · 16 Okt 2026, 23.52 WIB
