JAKARTA, KOMPAS.com - Meninggalkan merek yang telah dikenal konsumen selama puluhan tahun bukan keputusan sederhana bagi perusahaan ritel. Apalagi, nama tersebut telah melekat pada pengalaman belanja pelanggan dan menjadi bagian dari perjalanan bisnis perusahaan. Namun, bagi CEO ruparupa sekaligus Direktur PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (AHI), Teresa Wibowo, reputasi sebuah merek bukan satu-satunya pertimbangan untuk menentukan masa depan bisnis. Hal itu menjadi salah satu pertimbangan Kawan Lama Group ketika memutuskan mengakhiri kerja sama waralaba ACE Hardware dan mengembangkan merek sendiri, AZKO. Keputusan tersebut menandai perubahan penting bagi perusahaan yang telah lama menjalankan bisnis ritel dengan merek yang dikenal luas masyarakat. Perusahaan tidak lagi sekadar mempertahankan nama yang sudah memiliki reputasi, tetapi juga harus membangun identitas baru dan meyakinkan konsumen agar tetap berbelanja. Teresa menceritakan, keputusan tersebut diambil setelah perusahaan mengevaluasi kelanjutan kerja sama waralaba, termasuk persyaratan baru yang diajukan pemilik merek. “Setelah melalui pertimbangan tersebut, perusahaan akhirnya memutuskan untuk mengembangkan identitasnya sendiri melalui AZKO,” ujar Teresa di The Kasablanka Hall Jakarta, Rabu (14/10/2026). “Ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk melanjutkan bisnis dengan merek yang dibangun dan dikembangkan sendiri,” lanjutnya. Bisnis ritel Kawan Lama Group telah berkembang selama puluhan tahun. Dalam perjalanannya, perusahaan membangun jaringan toko, memperluas pasar, dan mengumpulkan pengalaman dalam mengelola operasional ritel. Namun, pengalaman panjang tersebut tidak serta-merta membuat keputusan mempertahankan merek waralaba menjadi pilihan terbaik. Menurut Teresa, perusahaan perlu menimbang manfaat menggunakan nama yang sudah dikenal masyarakat dengan biaya dan persyaratan yang harus dipenuhi, termasuk pembayaran royalti. “Kami berpikir, apakah sepadan jika kami terus membayar royalti dan biaya lainnya untuk mempertahankan sebuah nama? Apakah mempertahankan nama tersebut masih perlu kami lanjutkan, atau lebih baik membangun merek sendiri,” kata dia. Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari evaluasi terhadap model bisnis yang selama ini dijalankan. Nama yang telah dikenal memang memiliki nilai komersial, tetapi perusahaan juga perlu mempertimbangkan ruang gerak untuk mengembangkan bisnis sesuai dengan strategi sendiri. Memilih merek sendiri berarti perusahaan harus siap memikul tanggung jawab lebih besar dalam membangun identitasnya. Pengenalan konsumen, konsistensi pengalaman berbelanja, dan kepercayaan terhadap merek tidak bisa hanya mengandalkan reputasi yang telah terbentuk sebelumnya. “Keputusan untuk tidak melanjutkan kerja sama waralaba bukanlah hal yang mudah. Saat itu, perusahaan tengah memasuki masa pertimbangan untuk memperpanjang kerja sama ke periode kedua. Namun, ada sejumlah persyaratan baru dari pihak pemilik waralaba yang mengharuskan perusahaan melakukan berbagai perubahan,” ujar dia. Bagi Teresa, keputusan bisnis tidak seharusnya hanya berpatokan pada kebiasaan atau keberhasilan masa lalu. Perusahaan perlu terus mengevaluasi apakah cara yang selama ini digunakan masih sesuai dengan kebutuhan pasar dan tujuan jangka panjang. Setelah memutuskan membangun identitas sendiri, perusahaan perlu memastikan bahwa strategi bisnisnya tetap berangkat dari kebutuhan konsumen. Dalam industri ritel yang kompetitif, mempertahankan pelanggan tidak cukup hanya dengan mengandalkan nama yang sudah dikenal. Teresa menempatkan perilaku konsumen sebagai salah satu pertimbangan utama dalam menentukan arah bisnis. Menurut dia, perusahaan harus memahami kebutuhan pelanggan dan persoalan yang dapat diselesaikan melalui produk atau layanan yang ditawarkan. “Keputusan perusahaan perlu kembali pada pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya dibutuhkan pelanggan dan persoalan apa yang dapat diselesaikan melalui produk atau layanan yang ditawarkan,” lanjutnya. Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi penting di tengah persaingan ritel yang semakin ketat. Produk sejenis tersedia di banyak tempat, sementara biaya usaha terus berubah. Dia bilang, perusahaan perlu menemukan kebutuhan pelanggan yang belum terpenuhi agar memiliki alasan kuat untuk dipilih konsumen.