Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 mencatatkan surplus sebesar USD 120 juta atau USD 0,12 miliar. Surplus tersebut terutama ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang membukukan surplus USD 3,10 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan surplus perdagangan nonmigas terutama berasal dari komoditas lemak dan minyak hewan nabati (HS15), bahan bakar mineral (HS27), serta besi dan baja (HS72). Sementara itu, perdagangan komoditas migas pada Juli 2026 masih mengalami defisit sebesar USD 2,98 miliar, dengan penyumbang defisit utama dari hasil minyak dan minyak mentah. Secara kumulatif, neraca perdagangan barang Indonesia pada periode Januari-Juli 2026 mencatat surplus USD 3,70 miliar. Surplus tersebut terutama berasal dari perdagangan nonmigas yang mencapai USD 22,45 miliar, sedangkan komoditas migas masih defisit USD 18,75 miliar. Nilai ekspor Indonesia pada Juli 2026 tercatat USD 26,22 miliar, naik 6,05 persen dibandingkan Juli 2025 sebesar USD 24,72 miliar. Ekspor nonmigas mencapai USD 25,43 miliar atau naik 6,84 persen, sementara ekspor migas turun 14,58 persen menjadi USD 0,79 miliar. Kenaikan ekspor secara tahunan didorong komoditas utama seperti bahan bakar mineral (HS27) yang naik 34,86 persen dengan andil 3,41 persen. Secara kumulatif Januari-Juli 2026, total ekspor naik 4,43 persen secara tahunan menjadi USD 167,03 miliar dari USD 159,95 miliar pada periode yang sama 2025. Ekspor nonmigas naik 5,21 persen menjadi USD 160,01 miliar, sementara ekspor migas turun 10,63 persen menjadi USD 7,02 miliar.