Bisnis.com, JAKARTA — Prospek bisnis batu bara metalurgi PT Borneo Prima (BP) memasuki babak baru setelah PT Fortune Indonesia Tbk. (FORU) menyiapkan aksi korporasi jumbo untuk mengakuisisi 49% saham perusahaan tambang tersebut. Chief Financial Officer Borneo Prima Ilham Nugraha mengatakan, berdasarkan hasil pelaporan Joint Ore Reserve Committee (JORC) 2026, perusahaan memiliki total sumber daya batu bara metalurgi sekitar 202 juta ton dan cadangan 87,7 juta ton. “Borneo Prima memiliki sumber daya dan cadangan yang cukup untuk produksi sampai beberapa puluh tahun ke depan. Hasil JORC kami tahun 2026 itu total reserve kami adalah 87,7 juta ton dengan total resource sekitar 202 juta ton,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Jumat (16/10/2026). Dengan cadangan mencapai 87,7 juta ton, perseroan juga membidik peningkatan produksi dan perluasan pasar dengan dukungan jaringan perdagangan global IMR Group. Borneo Prima tercatat mengoperasikan tambang di Kabupaten Murung Raya dengan wilayah konsesi sekitar 15.000 hektare. Basis sumber daya dan cadangan tersebut menjadi modal perusahaan untuk menjaga kesinambungan operasi sekaligus meningkatkan produksi secara bertahap. Dari sisi kualitas, batu bara metalurgi Borneo Prima memiliki kadar abu relatif rendah, yakni 4%–8%, serta kandungan fosfor kurang dari 0,005%. Karakteristik ini mendukung pemanfaatan produknya dalam proses coal blending atau pencampuran berbagai jenis batu bara untuk memenuhi spesifikasi teknis dan ekonomis industri baja. Untuk menjaga konsistensi kualitas, perusahaan mengoperasikan fasilitas coal washing plant berkapasitas 1,5 juta ton. Fasilitas pencucian tersebut ditujukan untuk menurunkan kadar abu agar sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Borneo Prima juga berencana menerapkan sistem pemulihan air hingga 99% tanpa pembuangan air limbah proses (zero effluent discharge). Operasional fasilitas itu nantinya turut didukung tenaga surya hibrida untuk meningkatkan efisiensi dan menekan dampak lingkungan. Director Marketing & Commercial Borneo Prima Animesh Misra mengatakan, pengembangan bisnis perusahaan turut ditopang oleh jaringan IMR Group, yang memiliki pengalaman dalam perdagangan komoditas dan rantai pasok lintas negara. Secara global, IMR Group memiliki aktivitas perdagangan lebih dari 30 juta ton per tahun. Grup tersebut juga didukung lebih dari 500 kapal sewaan setiap tahun, dengan jangkauan operasi di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika. Portofolio bisnis IMR Group mencakup batu bara metalurgi, bijih besi, batu kapur, logam, hingga produksi baja nirkarat atau stainless steel. Menurut Animesh, jaringan tersebut memberikan Borneo Prima akses terhadap pengetahuan pasar, hubungan dengan pelanggan, serta pemahaman mengenai kebutuhan bahan baku di sepanjang rantai nilai industri baja. Kedekatan geografis Indonesia dengan pasar baja utama Asia, terutama China dan India, juga menjadi peluang bagi produsen batu bara metalurgi nasional untuk memperluas jangkauan pemasaran. Ke depan, Borneo Prima memprioritaskan peningkatan produksi secara bertahap, optimalisasi infrastruktur, efisiensi operasional, dan perluasan basis pelanggan. Adapun FORU sebelumnya telah mengantongi persetujuan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) untuk menerbitkan sebanyak-banyaknya 215,10 miliar saham baru melalui penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Dengan harga pelaksanaan Rp126 per saham, perseroan berpotensi menghimpun dana hingga Rp27,10 triliun. Dari total dana tersebut, sekitar Rp20,81 triliun dialokasikan untuk memperoleh 49% saham Borneo Prima milik IMR AH melalui mekanisme penyetoran modal selain uang atau inbreng. Sementara itu, sisa dana akan disalurkan kepada Borneo Prima dalam bentuk pinjaman untuk membiayai sebagian kebutuhan modal kerja operasional pertambangan.