Bank Indonesia (BI) memperkirakan tekanan arus modal keluar (capital outflow) dari portofolio investasi domestik masih berpotensi berlanjut. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya sentimen risk-off di pasar keuangan global yang mendorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS) alias greenback, serta menekan pasar keuangan di berbagai negara berkembang. Dinamika eksternal tersebut menjadi salah satu tantangan bagi stabilitas ekonomi nasional menjelang dua tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada 20 Oktober 2026. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan, dinamika persepsi dan sentimen investor global terhadap aset-aset berisiko secara langsung berdampak pada pergerakan dana di pasar keuangan Indonesia. “Di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong penguatan USD dan menekan pasar keuangan domestik, arus keluar dana dari aset portofolio domestik diperkirakan masih berlanjut,” ujar Erwin dalam keterangan resminya, Jumat (16/10/2026). Meski harus berhadapan dengan gelombang tekanan eksternal, Bank Indonesia menilai daya tahan nilai tukar rupiah relatif terjaga. Pelemahan mata uang Garuda tercatat terbatas sebesar 0,28% secara quarter-to-date (QTD), yang masih sejalan dengan pola pergerakan mata uang negara-negara di kawasan Asia. Kondisi tersebut didukung oleh posisi cadangan devisa Indonesia yang sangat memadai. Hingga akhir September 2026, posisi cadangan devisa nasional tercatat mencapai US$ 146,3 miliar. Angka ini dinilai lebih dari cukup untuk membiayai kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, sekaligus menjadi benteng utama dalam menjaga stabilitas moneter. Untuk meredam gejolak nilai tukar dan memastikan stabilitas pasar uang domestik, BI terus mengoptimalkan bauran strategi intervensi (triple intervention). Langkah-langkah yang ditempuh meliputi intervensi pasar offshore melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Selain intervensi langsung, Bank Indonesia juga fokus menjaga kecukupan likuiditas perbankan serta mengelola struktur suku bunga di pasar uang antarbank. Upaya teknis ini diperkuat dengan komunikasi dan koordinasi intensif bersama pelaku pasar, korporasi, serta pemangku kepentingan terkait. Langkah antisipatif BI ini bertepatan dengan tingginya tekanan di pasar saham domestik, ditandai dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Fenomena risk-off terjadi ketika pelaku pasar global cenderung menghindari aset berisiko seperti saham dan obligasi di negara berkembang lalu mengalihkan dana ke aset aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS. Bagi Indonesia, stabilitas arus modal portofolio memengaruhi volatilitas IHSG dan nilai tukar rupiah. Modal asing yang mengalir keluar dalam waktu singkat berpotensi menekan likuiditas pasar dan memicu depresiasi mata uang. Oleh karena itu, ketahanan cadangan devisa serta respons kebijakan moneter yang terukur dari Bank Indonesia menjadi krusial untuk mencegah volatilitas berlebih.