Bisnis.com, JAKARTA — Rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) pada 2027 membuka peluang bagi perusahaan pelat merah untuk menghimpun pendanaan dari pasar modal. Sejumlah BUMN dan anak usahanya telah lebih dahulu melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan nilai penawaran saham perdana mencapai triliunan rupiah. Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan pada 7 Oktober 2026 bahwa pihaknya tengah mengidentifikasi dan mengkaji perusahaan yang berpotensi melantai di bursa pada tahun depan. Perusahaan yang dipertimbangkan berasal dari sejumlah sektor, termasuk finansial, infrastruktur, dan pertambangan. Danantara menargetkan pengumuman sejumlah calon emiten tersebut sebelum akhir 2026. Melalui IPO, perusahaan dapat menghimpun dana dari investor publik untuk mendukung kebutuhan pendanaan dan pengembangan usaha. Aksi korporasi tersebut juga membawa konsekuensi berupa keterbukaan informasi dan kewajiban sebagai perusahaan tercatat. Sebelum rencana tersebut terealisasi, sejumlah BUMN dan anak usahanya telah lebih dahulu melakukan IPO. Berdasarkan nilai bruto penawaran saham perdana dalam daftar ini, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) memimpin dengan nilai sekitar Rp18,34 triliun, disusul PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) sebesar Rp9,06 triliun. MTEL pimpin daftar IPO jumbo PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) menempati posisi pertama dengan nilai IPO sekitar Rp18,34 triliun. Anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang dikenal dengan nama Mitratel itu mencatatkan sahamnya di BEI pada 22 November 2021. Dalam IPO tersebut, MTEL menawarkan sekitar 22,92 miliar saham dengan harga Rp800 per saham. Berdasarkan jumlah saham yang ditawarkan dan harga penawaran, nilai bruto IPO perseroan mencapai sekitar Rp18,34 triliun. Di posisi kedua, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) menghimpun dana sekitar Rp9,06 triliun melalui IPO pada 24 Februari 2023. Perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan dan pemanfaatan energi panas bumi tersebut menawarkan sekitar 10,35 miliar saham dengan harga Rp875 per saham. PGEO merupakan bagian dari kelompok usaha PT Pertamina (Persero). Nilai IPO tersebut menempatkannya di atas sejumlah emiten BUMN dan anak usahanya yang lebih dahulu melantai di bursa. Selanjutnya, PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP) menempati posisi ketiga dengan nilai IPO sekitar Rp5,17 triliun. Perusahaan yang berada dalam kelompok usaha PT Waskita Karya (Persero) Tbk. itu mencatatkan sahamnya pada 20 September 2016 dengan menawarkan sekitar 10,54 miliar saham pada harga Rp490 per saham. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) berada di posisi keempat dengan nilai IPO sekitar Rp4,75 triliun. Maskapai penerbangan nasional tersebut melantai di bursa pada 11 Februari 2011 dengan menawarkan sekitar 6,34 miliar saham pada harga Rp750 per saham. PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) melengkapi lima besar dengan nilai IPO sekitar Rp3,47 triliun. Operator jalan tol tersebut mencatatkan sahamnya pada 12 November 2007 dengan menawarkan sekitar 2,04 miliar saham pada harga Rp1.700 per saham. BBRI hingga TLKM lengkapi 10 besar PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) berada di posisi keenam dengan nilai IPO sekitar Rp3,33 triliun. BRI mencatatkan sahamnya di bursa pada 10 November 2003 dengan menawarkan sekitar 3,81 miliar saham pada harga penawaran Rp875 per saham. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) melakukan IPO pada 14 Juli 2003 dengan menawarkan 4 miliar saham pada harga Rp675 per saham. Berdasarkan jumlah saham dan harga penawaran tersebut, nilai bruto IPO Bank Mandiri mencapai Rp2,70 triliun. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) menyusul dengan nilai IPO sekitar Rp2,68 triliun. Emiten baja tersebut mencatatkan sahamnya pada 10 November 2010 melalui penawaran sekitar 3,155 miliar saham baru dengan harga Rp850 per saham. PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) berada di posisi kesembilan dengan nilai IPO sekitar Rp1,94 triliun. Perusahaan transmisi dan distribusi gas bumi itu mencatatkan sahamnya pada 15 Desember 2003 dengan menawarkan sekitar 1,296 miliar saham pada harga Rp1.500 per saham. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) melengkapi 10 besar dengan nilai IPO sekitar Rp1,91 triliun. Telkom mencatatkan sahamnya di bursa pada 14 November 1995 dengan menawarkan sekitar 933,33 juta saham pada harga Rp2.050 per saham. Daftar nilai IPO: 1. MTEL — tahun IPO 2021 — Rp18,34 triliun. 2. PGEO — tahun IPO 2023 — Rp9,06 triliun. 3. WSBP — tahun IPO 2016 — Rp5,17 triliun. 4. GIAA — tahun IPO 2011 — Rp4,75 triliun. 5. JSMR — tahun IPO 2007 — Rp3,47 triliun. 6. BBRI — tahun IPO 2003 — Rp3,33 triliun. 7. BMRI — tahun IPO 2003 — Rp2,70 triliun. 8. KRAS — tahun IPO 2010 — Rp2,68 triliun. 9. PGAS — tahun IPO 2003 — Rp1,94 triliun. 10. TLKM — tahun IPO 1995 — Rp1,91 triliun. Menanti IPO BUMN berikutnya pada 2027 Sejumlah perusahaan pelat merah dan anak usahanya telah menjadikan pasar modal sebagai salah satu jalur pendanaan melalui IPO. Namun, status kepemilikan masing-masing emiten perlu dibedakan karena tidak seluruhnya merupakan BUMN yang dimiliki negara secara langsung. MTEL merupakan anak usaha Telkom, sedangkan WSBP berada dalam kelompok usaha Waskita Karya. PGEO dan PGAS berada dalam kelompok usaha Pertamina. GIAA, JSMR, BBRI, BMRI, KRAS, dan TLKM berstatus perusahaan BUMN. Untuk rencana IPO pada 2027, Danantara belum mengumumkan daftar final perusahaan yang akan melantai di bursa. Rosan sebelumnya menyebutkan bahwa perusahaan dari sektor finansial, infrastruktur, dan pertambangan masuk dalam kajian. Jika rencana tersebut terealisasi, IPO BUMN berikutnya akan menambah daftar perusahaan pelat merah yang menghimpun dana dari investor publik. Besaran dana yang diperoleh nantinya akan bergantung pada perusahaan yang dipilih, jumlah saham yang ditawarkan, harga penawaran, serta kondisi pasar ketika IPO dilaksanakan.
10 Saham BUMN dengan Nilai IPO Terbesar, Ada MTEL, PGEO hingga PGAS
MTEL memimpin daftar nilai IPO BUMN dan anak usahanya dengan sekitar Rp18,34 triliun, disusul PGEO sebesar Rp9,06 triliun. Danantara sedang mengkaji calon IPO BUMN untuk 2027, termasuk dari sektor finansial, infrastruktur, dan pertambangan.
Diperbarui:
Analisis Dampak Berita
Masuk untuk meminta analisis dampak berita ini.
MasukKomentar (0)
Masuk untuk memberikan komentar.
Baca juga
0Ketahanan Energi Berukuran Jam
Kolom ini membandingkan gangguan listrik di Batam-Bintan dengan kelangkaan BBM di Bali, dan mempertanyakan daya tahan sistem energi saat satu komponen atau pasokan terganggu. Penulis menyoroti pemadaman lebih dari 400.000 pelanggan serta keterlambatan bongkar muat kapal yang memperparah antrean BBM.
Sumber Berita: Kompas
Newsroom · 17 Okt 2026, 11.26 WIB
0Dua Tahun Prabowo-Gibran, Sejauh Mana Janji 19 Juta Lapangan Kerja?
Artikel meninjau janji 19 juta lapangan kerja setelah dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, di tengah perubahan industri dan PHK. Data Kemnaker yang dikutip menunjukkan PHK pada 2026 mencapai 63.789 orang; pemerintah menyebut angkatan kerja bertambah sekitar 3,2–3,5 juta per tahun dan menjalankan program magang nasional.
Sumber Berita: Kompas
Newsroom · 17 Okt 2026, 11.26 WIB
0LPS: Merger Asuransi BUMN Tak Pengaruhi Kepesertaan Penjaminan Polis
LPS menilai konsolidasi perusahaan asuransi BUMN tidak akan mengubah kepesertaan dalam program penjaminan polis. Program tersebut mengacu pada perusahaan yang menjalankan kegiatan asuransi dan menerbitkan polis, bukan perusahaan induk yang hanya bertindak sebagai holding.
Sumber Berita: Kompas
Newsroom · 17 Okt 2026, 11.26 WIB
